Siapa yang Menjaga Pintu Depan Rumah Saudara | World Challenge

Siapa yang Menjaga Pintu Depan Rumah Saudara

David WilkersonFebruary 7, 2000

Generasi muda Amerika Serikat yang sekarang ini adalah generasi yang terhilang. Tidak ada generasi mana pun di dalam sejarah yang dengan hebatnya dilanda oleh wabah seks, obat bius, minuman keras, keserakahan, dan pembunuhan dalam usia semuda usia mereka. Pertanyaan saya: siapakah yang harus dipersalahkan?

Setiap orang tahu bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi di sekolah-sekolah kita. Kejahatan dan kekerasan telah menjadi suatu hal yang biasa, sehingga banyak gedung sekolah yang dilengkapi dengan alat pendeteksi senjata. Murid laki-laki kelas satu SLTP bisa mendapatkan senjata api dengan mudahnya dan membantai teman sekelas mereka tanpa rasa penyesalan sama sekali.

Sistem pendidikan di Amerika itu sendiri telah tercemar dan mengalami penyimpangan. Guru-guru memperkenalkan ateisme, teori evolusi, gaya hidup homoseksual, pergaulan bebas, dan sikap anti agama yang militan kepada murid-muridnya. Seorang guru tidak diperbolehkan menaruh Alkitab di atas mejanya, tetapi dia diijinkan untuk menggelar buku-buku yang topiknya berkisar dari paham komunis sampai ke pornografi.

Sejak sistem hukum di Amerika Serikat menolak kehadiran Allah di sekolah-sekolah, setan telah mengambil alih sekolah-sekolah itu. Tetapi saya yakin bahwa bukanlah sistem sekolah yang tercemar yang mencelakakan anak-anak kita.

Seluruh lapisan masyarakat kita sedang mengalami kemerosotan moral. Program-program kebudayaan dan pameran-pameran seni telah menjadi kotor dan vulger; sehingga ketidaksenonohan menjadi hal yang biasa. Bahkan pemimpin-pemimpin yang terpandang di kalangan pemerintahan dan dunia bisnis menggunakan kata-kata yang keji dengan bebas. Mereka menghujat Kristus dan menyumpahi nama Allah dengan seenaknya saja.

Kemerosotan moral Amerika Serikat telah menjadi sedemikian gentingnya, bahkan kaum ateis yang liberal pun mengakui bahwa fondasi-fondasi moral kita dalam keadaan terancam. Tetapi bukanlah masyarakat kita yang bejat yang mencelakakan anak-anak kita.

Seluruh media massa sekarang ini tampaknya seperti dikontrol oleh iblis. MTV adalah saluran TV milik iblis, dengan setan sendiri yang menjadi eksekutif utamanya. Video-video musik sekarang ini tidak lain merupakan pornografi yang menjijikkan dengan lirik-lirik lagu yang keji dan tak bermoral.

Tentu saudara akan berpikir, betapa dalamnya kerusakan dan pengaruh iblis atas orang-orang yang menyebarkan segala kebobrokan dan penyimpangan moral tersebut kepada seluruh generasi muda itu. Orang-orang tersebut tentu sudah merusak hidup mereka sendiri dan mereka bermaksud untuk merusak generasi yang akan datang. Akan tetapi, isi musik yang keji pun tidaklah sepenuhnya bertanggung-jawab atas celakanya pemuda-pemudi kita.

Dalam dunia periklanan, seks melariskan segala sesuatu yang dipasarkan. Tiada tindakan mesum yang dianggap dosa lagi. Segala sesuatu dihalalkan, dan dengan berlalunya waktu, Amerika semakin tenggelam dalam kesesatan. Dan semuanya ini dipromosikan oleh media yang dengan diam-diam dibantu oleh kuasa kegelapan. Akan tetapi, sejelek-jeleknya moralitas perusahaan-perusahaan periklanan saat ini, mereka tidak dapat dipersalahkan sebagai penyebab utama dari rusaknya generasi muda kita.

Saudara mungkin bertanya-tanya tentang dampak dari gereja yang mati secara rohani dan berkompromi dengan dosa, yaitu dengan membawa kekotoran duniawi ke dalam rumah Allah. Sekarang ini, ada banyak pendeta yang dengan rutinnya menyangkal adanya surga, neraka, dan kelahiran Yesus dari perawan Maria. Gereja-gereja mereka telah menjadi kerangka-kerangka gedung yang kosong, secara lahiriah mereka menjalankan ibadah tetapi tidak ada kuasa di sana. Dan kebaktian-kebaktian mereka telah menjadi sangat hambar sehingga anak-anak muda berbondong-bondong meninggalkan kebaktian. Pemuda-pemudi dibiarkan berpikir bahwa kekristenan tidak ada relevansinya sama sekali dengan hidup mereka.

Banyak pemimpin puji-pujian yang telah mengganti himne-himne dengan musik rock ala MTV yang menyebut Yesus dengan sepintas lalu saja. Dan bukannya mempersembahkan ibadah yang suci, gereja-gereja sekarang malah mempertunjukkan konser-konser musik punk-rock yang membanting-banting tubuh, di mana anggota-anggota band yang berpenampilan menyeramkan, bertato dan bertindik tubuhnya berjingkrak-jingkrak dengan liarnya, mencemari rumah Allah dengan musik pemberontakan yang penuh amarah.

Tetapi, bagaimanapun keringnya dan duniawinya gereja yang berkompromi dengan dosa, gereja semacam ini bukanlah faktor utama yang menyebabkan celakanya anak-anak kita.

Banyak orang tuatermasuk orang Kristenyang menyalahkan hal-hal tersebut di atas sebagai penyebab terhilangnya generasi muda kita. Ketika anak-anak mereka tersesat dan berpaling pada obat bius atau minuman keras, orang tua tersebut marah terhadap sekolah-sekolah, pemerintah, media massa, gereja, dan teman sebaya anak-anak mereka. Banyak di antara mereka yang akhirnya memindahkan anak-anaknya dari sekolah-sekolah negeri ke sekolah-sekolah Kristen. Tetapi, sering kali pemberontakan anak-anak tersebut malah makin menjadi.

Bahkan para orang tua yang belum percaya pada Tuhan Yesus pun bertindak seperti itu. Mereka tidak acuh akan agamatetapi mereka mengirim anak-anak mereka ke Sekolah Minggu, dengan harapan bahwa Sekolah Minggu akan menanamkan ajaran-ajaran yang positif di dalam hati anak-anak mereka. Mereka berharap bahwa hanya dalam satu jam setiap minggu, guru-guru Sekolah Minggu akan mampu mengubah dan menyulap anak-anak muda tersebut dari pemberontak menjadi malaikat. Tetapi jika hal ini tidak terjadi, para orang tua ini menyalahkan gereja karena kekacauan yang ditimbulkan oleh anak-anak tersebut di dalam rumah tangga mereka.

Faktor-faktor yang saya sebutkan di atas memang memegang peranan dalam hal rusaknya pemuda-pemudi kita. Tetapi bukan hanya sekolah, kebudayaan, media, musik yang keji, atau gereja yang murtad yang menjadi penyebabnya. Sesungguhnya, tanggung-jawab atas generasi muda ini terutama terletak pada orang tua. Keluarga merupakan tempat di mana benih-benih pemberontakan dan kekejian ditaburkan.

Saya harus bertanya kepada para orang tua: tahukah saudara di manakah anak-anak saudara ketika saudara bepergian ke sana kemari untuk mencari berkat? Apakah saudara tidak memberikan perhatian yang cukup kepada anak-anak saudara? Saudara mungkin dapat bersaksi bahwa Allah telah mengubah saudara menjadi seorang yang berohani dan membangkitkan semangat pelayanan saudaratetapi jika rumah tangga saudara kacau suasananya dan kelakuan anak-anak saudara memberontak, maka saudara telah kehilangan hal yang terbaik dari Allah.

Jika saudara meyakini telah mengalami jamahan kuasa Allah dalam hidup saudara, apakah hal itu membuat saudara lebih terbeban untuk memperhatikan anak-anak saudara? Jika saudara tidak mengalami hal ini, bagaimana mungkin saudara dapat duduk di rumah Tuhan menikmati kehadiran-Nya untuk kepentingan diri sendiri lalu pulang ke rumah tanpa peduli akan kegelapan yang sedang menimpa keluarga saudara?

Janganlah salah pahamsaya tidak meremehkan kebaktian-kebaktian kebangunan rohani atau manifestasi-manifestasi ilahi. Saya sendiri telah mengalami kebangkitan-kebangkitan rohani yang murni dan jamahan serta dorongan Roh Kudus. Sebagai seorang penginjil, saya tahu bahwa Roh Kudus menyatakan diri-Nya di dalam diri kita untuk menghancurkan kesombongan kita, menyingkapkan ketidakacuhan jiwa kita, dan memperbarui roh kita. Saya juga tidak menyalahkan orang tua atas semua pemberontakan anak-anak muda. Ada banyak penyebab dari sikap keduniawian mereka.

Sekarang ijinkanlah saya untuk memberikan suatu definisi dari kebangunan rohani yang sejati: kebangunan rohani yang sejati terjadi ketika tembok-tembok dan pintu-pintu gerbang yang menjaga rumah Allah dipulihkan. Dan tembok-tembok itu termasuk pintu-pintu rumah tangga orang Kristen. Baiklah saya jelaskan.

Ketika Nehemia dan 43.000 orang Yahudi yang cinta tanah air pulang ke Yerusalem, mereka mendapati kota mereka dalam keadaan hancur total. Tembok-temboknya roboh dan pintu-pintu gerbangnya sudah tidak ada lagi, sehingga penduduk Yerusalem tidak mempunyai perlindungan terhadap musuh mereka. Dan dengan beruntun musuh-musuh, yaitu Sanbalat, bangsa Amon, penjahat-penjahat, dan pencuri-pencuri, menjarah kota itu dengan semaunya.

Musuh-musuh ini telah diberi kekuasaan penuh sebagai akibat dari kemurtadan bangsa Israel dan ketidaktaatan mereka terhadap firman Allah. Nehemia menulis, "... karena dosa-dosa kami. Mereka [musuh-musuh kami] itu memerintah sekehendak hati atas diri kami dan ternak kami, sehingga kami dalam kesesakan besar" (Nehemia 9:37).

Dalam hal ini, Yerusalem merupakan tipe dari gereja Yesus Kristus di masa ini. Seperti halnya dengan bangsa Israel, banyak orang Kristen yang sepenuhnya berada dalam belenggu dosa. Dan dosa yang ada di dalam rumah Allah telah mengakibatkan kesesakan dan ikatan-ikatan perhambaan, menyebarkan racun ke seluruh tubuh Kristus.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Hal ini terjadi karena tembok-tembok kebenaran sudah dirobohkan. Tembok-tembok ini adalah kubu-kubu perlindungan yang didirikan ketika orang-orang percaya berpegang teguh pada firman Allah. Dosa kita dan sikap berkompromi dengan dosa menyebabkan gerbang-gerbang perlindungan tersebut roboh, sehingga banyak orang Kristen menjadi mudah diserang dan tidak mempunyai pertahanan terhadap kuasa setan.

Tetapi Nehemia melambangkan rencana restorasi dari Allah. Nehemia mengerti bahwa agar kebangunan rohani yang sejati dapat terjadi, harus ada tembok kebenaran yang aman dan melindungi serta mengelilingi umat Allah.

Jadi, apakah Nehemia melangkah masuk ke dalam kota yang tak bertembok ini dan menghendaki adanya kebangunan rohani yang penuh dengan manifestasi-manifestasi yang ajaib? Tidak. Satu-satunya manifestasi yang terlihat setelah kedatangan Nehemia adalah adanya kaum pria dan wanita dengan cangkul dan sekop di tangan mereka. Mereka bekerja keras membangun kembali tembok-tembok kota dan memperbaiki pintu-pintu gerbangnya. Dan Nehemialah yang memimpin pekerjaan ini.

Pekerjaan pemugaran ini dimulai pada saat Nehemia merasa terbeban atas keprihatinan Tuhan akan kehancuran di dalam bait-Nya. Ketika Nehemia melihat kesengsaraan dan aib yang diderita oleh umat Allah ini, dia jatuh berlutut dan menangis, "Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar" (Nehemia 1:3).

Apakah tindakan Nehemia yang berikutnya? Siang dan malam dia berpuasa dan berdoa, mengakui dosa-dosa bangsa Israel. "Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit" (ayat 4).

Inilah awal dari kebangunan rohani yang sejatiketika sekelompok Nehemia yang saleh merasa terbeban atas keprihatinan Allah akan gereja yang terjerat dosa. Sekelompok orang saleh ini berpuasa dan berdoa, memohon Allah untuk mulai membangun kembali tembok-tembok dan pintu-pintu gerbang yang akan melindungi umat-Nya dari setiap musuh.

Tembok-tembok dan pintu-pintu gerbang tidak ada gunanya jika tidak dilengkapi dengan penjaga-penjaga yang tahu apa saja yang boleh dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kota. Demikianlah kata Nehemia, "Setelah tembok selesai dibangun, aku memasang pintu-pintu. Lalu diangkatlah penunggu-penunggu pintu gerbang, para penyanyi dan orang-orang Lewi" (Nehemia 7:1).

Perhatikanlah bahwa penjaga-penjaga pintu gerbang ini tidak terbatas pada imam-imam. Mereka terdiri dari orang-orang awampemain musik, portir, orang-orang dari kalangan apa saja. Dan mereka diberi instruksi, "Pintu-pintu gerbang Yerusalem jangan dibuka sampai matahari panas terik. Dan pintu-pintunya harus ditutup dan dipalangi, sementara orang masih bertugas di tempatnya" (ayat 3).

Allah mengatakan kepada umat-Nya, "Rumah-Ku akan menjadi tempat yang terang, dan kegelapan tidak boleh masuk ke dalamnya. Biarlah siapa saja dan apa saja yang masuk ke situ menjadi suatu buku yang terbuka, tunduk kepada terang firman-Ku."

Baru-baru ini saya mendengar kisah yang tragis mengenai seorang pendeta dari gereja yang sangat besar. Pendeta ini terkenal di daerahnya. Ia ketahuan berbuat zina dan menyalahgunakan keuangan gereja. Beberapa pendeta yang saleh di daerah itu merasa prihatin dan mendekati tua-tua sidang dari gereja yang besar tersebut. Mereka menyarankan agar pendeta tersebut dicutikan selama enam bulan. Kemudian mereka menawarkan untuk berkumpul bersama memberi dukungan, disiplin, pelayanan, dan pemulihan kepada pendeta tersebut; yang kesemuanya ini berdasarkan Alkitab.

Tetapi tua-tua sidang itu menolak tawaran para pendeta tersebut. Mereka malah memutuskan untuk tetap mempekerjakan pendeta itu, tanpa mendisiplinkannya sama sekali. Mereka berkata, "Kami tetap ingin mendengarkan khotbah-khotbah pendeta kami. Dia adalah seorang pembicara yang hebat. Di samping itu, pada dasarnya ia adalah orang yang baik, benar-benar merupakan kawan kami di gereja. Kalian tahu, tiap-tiap orang mempunyai kelemahan."

Seorang wanita anggota jemaat gereja tersebut setuju dengan pendapat itu, "Saya tidak peduli dengan apa yang telah diperbuat oleh pendeta kami. Khotbahnya adalah satu-satunya cara bagi saya untuk membawa suami saya yang belum selamat untuk datang ke gereja bersama saya. Saya setuju agar ia tetap melayani di sini."

Orang-orang ini diberi wewenang yang jelas oleh Allah untuk bertindak sebagai penjaga-penjaga pintu gerbang. Tetapi mereka menolak untuk menutup pintu-pintu gerbang mereka dari kuasa kegelapan. Alangkah menyedihkannya bahwa mereka membiarkan diri mereka disuap oleh hubungan antar manusia.

Pesan saya kepada setiap tua-tua sidang yang membaca khotbah ini, termasuk tua-tua sidang di Times Square Church: jangan sekali-kali diri kalian dibutakan dari firman Allah oleh suatu persahabatan dengan pendeta mana saja. Kalian telah diangkat oleh Allah sebagai penjaga di pintu-pintu gerbang rumah-Nya. Dan jika seseorang mengabarkan Injil yang tidak sesuai dengan Kitab Suci di gereja kalian, adalah tugas kalian untuk dengan penuh kasih memberitahu pengkhotbah tersebut bahwa ia salah.

Saya tidak menganjurkan agar tua-tua sidang memerintah dengan seenaknya dan suka mengontrol. Saya pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan ini yaitu diperlakukan oleh kelompok semacam itu di tempat pelayanan saya yang pertama. Tua-tua sidang yang bertangan besi di gereja tersebut telah menyebabkan setiap gembala yang melayani di situ selama tiga puluh tahun terakhir pergi meninggalkan tempat itu.

Saya baru berumur 19 tahun sewaktu mulai menggembalakan gereja itu, dan setiap orang yang berumur 19 tahun pasti akan berbuat kesalahan. Tetapi pada suatu hari, empat orang dari tua-tua sidang memanggil saya, menyuruh saya duduk di dalam suatu ruangan, dan menuduh bahwa saya adalah seorang diktator. Mereka tidak berhentinya menuduh dan tidak memberi saya kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Itu merupakan pengalaman yang terburuk di masa muda saya.

Setelah selesai, yang bisa saya katakan hanyalah, "Firman Allah mengatakan janganlah mengusik orang yang telah diurapi-Nya. Jadi, jika kalian percaya bahwa Tuhan telah mengurapi saya untuk menggembalakan gereja ini, maka kalian salah kalau menuduh saya seperti ini. Saya serahkan kalian pada Allah supaya Ia menjadi hakimnya." Sungguh menyedihkan, keempat orang itu mendapatkan hukumannya masing-masing dari Tuhan di kemudian hari.

Sebagai penjaga-penjaga pintu gerbang, kita harus menjaga pintu-pintu rumah Allah dengan rendah hatimelalui puasa, doa, dan keprihatinan yang penuh kasih yang dinyatakan melalui rasa takut akan Allah.

Menurut Nehemia, penjaga-penjaga diangkat tidak hanya untuk menjaga gerbang-gerbang kota suci ini, tetapi juga untuk menjaga setiap rumah tangga. Singkatnya, kepala-kepala keluargayaitu para orang tuabertanggung-jawab atas segala sesuatu yang masuk ke dalam rumah mereka.

Pesan Allah di sini adalah sangat jelas: bapak-bapak dan ibu-ibu, kalian diberi wewenang untuk menjaga keluarga kalian dari setiap kuasa kegelapan yang berusaha memasukinya. Ini berarti bahwa kalian bertanggung-jawab atas setiap buku, setiap kaset, setiap teman yang dibawa anak kalian ke dalam rumah. Kalian juga bertanggung-jawab atas segala sesuatu yang membawa pengaruh di dalam keluarga kalian, baik TV, video, atau internet.

Saya sungguh-sungguh percaya bahwa hari-hari ini para orang tua memerlukan kebijaksanaan dan kemampuan untuk membedakan lebih dari zaman mana pun dalam sejarah. Setan mempunyai banyak cara yang jahat dan tipu muslihat yang halus dan rumit yang dipergunakannya untuk menyerang umat Allah. Dan hanya melalui doa yang tekun setiap hari dan penyerapan diri ke dalam firman Allah sajalah, maka kita sebagai penjaga-penjaga keluarga akan memiliki kuasa untuk melawan setan.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin membesarkan hati para orang tua tunggal: Allah tahu segala kesukaran saudara untuk berperan sekaligus sebagai ayah dan ibu bagi anak-anak saudara. Tetapi wewenang yang diberikan-Nya kepada saudara tetaplah sama: saudara adalah penjaga yang ditetapkan untuk menjaga rumah tangga saudara. Saudara tidak dapat menunggu datangnya seorang teman hidup yang akan melakukan tugas-tugas itu bagi saudara. Tuhan berjanji akan mengaruniakan segala rahmat dan kekuatan jika saudara menegakkan firman-Nya dalam rumah tangga saudara.

Ketika saya memikirkan tentang dua anak laki-laki di Colorado yang membunuh teman-teman sekelas mereka lalu membunuh diri mereka sendiri, saya bertanya-tanya: di manakah orang tua mereka? Kedua anak itu membuat bom-bom pipa di dalam garasi rumah mereka. Dan kamar tidur mereka penuh dengan barang-barang yang menunjukkan apa yang akan mereka lakukan: materi-materi mengenai kebencian, catatan berisi kata-kata ancaman, mantel-mantel dan topi-topi berwarna hitam. Tidakkah ayah mereka sewaktu-waktu datang mengecek mereka? Apakah ibu mereka tidak pernah masuk ke kamar mereka untuk membersihkannya, dan melihat barang-barang yang berbau kejahatan itu? Rupanya, tidak ada penjaga di pintu rumah tangga mereka.

Hari-hari ini, setiap kali saya melihat remaja-remaja yang lidahnya bertindik, mengenakan lambang-lambang setan, dan dengan dandanan rambut yang bentuknya seperti duri, saya mengenali bahwa ini hanyalah gejala-gejalanya. Anak-anak tersebut seolah-olah menjerit, "Ibu, Bapak, kalian mengabaikan saya. Kalian terlalu sibukbahkan kalian tidak menyadari kalau saya hidup dan ada di sini."

Suatu hari nanti kita semua akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Allah dan memberikan jawaban kepada Tuhan tentang bagaimana kita membesarkan anak-anak kita. Dan pada saat itu, tidak ada seorang pun yang bisa berdalih atau menyalahkan orang lain. Maka dari itu, kita harus memeriksa diri kita sendiri saat ini dan bertanya: apakah kita telah membesarkan anak-anak kita dalam kesadaran dan takut akan Tuhan? Apakah kita telah memberi contoh kepada mereka tentang hidup yang penuh kasih dan hormat akan Allah?

Saya ingat sedang bermain di luar rumah sewaktu saya masih kecil dan mendengar ibu saya mendoakan saya dari lantai tiga rumah kami. Ibu saya merupakan contoh yang tetap jelas dalam ingatan saya. Di kemudian hari, ketika Gwen dan saya membesarkan anak-anak kami, kami juga melakukan hal yang sama, yaitu mendoakan anak-anak kami menurut Kitab Mazmur, "Tuhan, jadikanlah putra-putra kami seperti pohon-pohon oak di sisi air kehidupan. Dan jadikanlah putri-putri kami seperti batu-batu pahatan yang halus di istana-Mu. Jauhkanlah mereka semua dari segala tipu muslihat yang jahat."

Setiap orang tua Kristen mempunyai harapan yang besar atas anaknya. Hal ini selalu saya lihat di dalam jemaat kami, ketika para orang tua datang menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan. Para pendeta di gereja kami berdoa memohon kasih dan perlindungan Allah bagi anak-anak kecil ini. Kemudian kami mengurapi mereka dengan minyak dan meminta Roh Kudus untuk menaruh tembok api perlindungan di sekeliling mereka.

Tetapi kadang-kadang saya bertanya-tanya: dari antara anak-anak yang berharga ini berapakah yang akhirnya akan jatuh ke dalam cengkeraman iblisterlibat obat bius dan tindakan kriminalsebab ibu atau ayah mereka bersikap ceroboh mengenai kehidupan rohani dalam rumah tangga mereka? Apakah anak-anak itu akan berakhir dalam kehancuran sebab orang tua mereka terkungkung oleh masalah-masalah mereka sendiri dan tidak pernah memperhatikan atau mendisiplinkan mereka dengan sepatutnya?

Barangkali saudara adalah orang tua yang pedih hatinya sebab anak laki-laki atau perempuan saudara yang telah dewasa tidak lagi mengiring Tuhan. Atau barangkali hati saudara remuk karena anak saudara yang bungsu kecanduan obat bius atau minuman keras. Saudara telah melihat anak yang tadinya lemah lembut berubah menjadi pahit, keras, dan tersesat.

Khotbah ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan saudara. Tiada seorang manusia pun yang bisa mengubah masa lalunya. Tetapi saya mempunyai satu pertanyaan untuk saudara. Ketika saudara mengenang masa-masa membesarkan anak saudara, tanyalah diri saudara sendiri: apakah saudara sungguh-sungguh menjaga rumah tangga saudara? Apakah saudara membungkus anak-anak saudara dalam doa setiap hari? Ataukah saudara terlalu sibuk? Apakah saudara mengijinkan anak-anak saudara untuk mengintimidasi saudara?

Sekarang semuanya ini adalah masa lalu. Tetapi ada sesuatu yang masih dapat saudara lakukan: panggilan sebagai seorang peronda yang berdoa dengan tekun demi keselamatan anak saudara ini masih tetap ada pada saudara. Ini benarsaudara dapat mengganti apa yang mungkin telah hilang di masa lalu dengan doa pada saat ini. Saudara tetap dapat mencari hadirat Allah, membungkus orang-orang yang saudara kasihi dengan doa, dan meminta agar Roh Kudus menginsafkan orang-orang tersebut dan membawa mereka datang ke kayu salib.

Tetapi, bagaimanapun juga saya harus memperingatkan saudarajika anak-anak saudara murtad atau masih belum selamat, janganlah mengkhotbahi mereka. Cukup doakanlah mereka. Saudara tidak dapat mengajak seseorang datang ke kerajaan Allah dengan cara mengusik orang itu. Banyak pecandu obat bius yang memberitahu saya, "Telinga saya masih berdenging gara-gara mendengar teriakan ibu saya. Saya dapat mendengarnya dari ujung jalan."

Sesungguhnya, membentak-bentak tidak sepenuhnya efektif, sebab semua kuasa ada pada Roh Kudus. Maka dari itu, dapatkanlah wibawa melalui hormat saudara pada firman Allah. Ketika seseorang berjalan memasuki ambang pintu rumah saudara, dengan sendirinya mereka akan merasakan otoritas Allah di dalam rumah saudara pada saat itu juga. Dan sampai anak-anak saudara tumbuh dewasa, saudara adalah wali yang berwenang dan berhak untuk mengeluarkan peraturan-peraturan.

Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa jika saudara membesarkan anak-anak saudara dalam naungan kuasa firman Allah, mereka tidak akan beranjak dari didikan itu di kemudian hari. Mungkin mereka akan menyimpang darinya untuk beberapa waktu, bahkan sampai bertahun-tahuntetapi pada akhirnya, kuasa firman Allah akan membawa mereka kembali kepada kebenaran.

Inilah janji perjanjian Allah yang harus dihafalkan oleh setiap orang tua. Ini berlaku baik untuk anak-anak yang telah terhilang dan juga untuk anak-anak yang masih berada dalam asuhan saudara saat ini,

"Tetapi sekarang, dengarlah, hai Yakub, hambaKu, dan hai Israel, yang telah Kupilih! Beginilah firman Tuhan yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau: Janganlah takut, hai hambaKu Yakub, dan hai Yesyurun, yang telah Kupilih!

"Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah [kepada orang, terjemahan Alkitab bahasa Inggris versi King James, penerjemah] yang haus, dan hujan lebat [banjir, terjemahan Alkitab bahasa Inggris versi King James, penerjemah] ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan RohKu ke atas keturunanmu, dan berkatKu ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai" (Yesaya 44:1-4).

Janji yang diperuntukkan bagi bangsa Israel ini juga ditujukan bagi kita saat ini. Kata-kata penghiburan ini diberikan bagi semua orang yang terpilih (lihat ayat 1)yang berarti, semua orang yang berada di dalam Kristus.

Tuhan mulai dengan berfirman kepada kita di dalam ayat 1-2, "Akulah Tuhan yang menciptakanmu, dan Aku mengerti kepedihan hatimu. Aku akan menolongmu sekarang. Janganlah kamu takut." Kata Yesyurun dalam ayat ini berarti orang yang benar. Dengan kata lain, Allah memberikan janji-janji ini bagi umat-Nya yang benarjanji-janji perjanjian yang mulia dan mengikat. Janji-janji ini adalah:

Allah akan memberikan air untuk memuaskan dahaga kita: "Aku akan mencurahkan air kepada mereka yang haus, dan banjir ke atas tempat yang kering" (ayat 3). Apakah Tuhan telah memberikan firman-Nya yang memuaskan dahaga saudara? Apakah Ia telah mendatangi saudara di tengah kehidupan rohani saudara yang kering and membanjiri saudara dengan Roh-Nya? Apakah saudara sedang minum air firman-Nya yang murni?

Jika demikian, maka saudara siap untuk menagih janji perjanjian-Nya yang lain:

"Aku akan mencurahkan RohKu ke atas keturunanmu, dan berkatKu ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai" (ayat 3-4).

Seperti mungkin saudara ketahui, pohon gandarusa tumbuh dengan cepatnya dan juga cepat berkembang biak. Sering kita lihat mereka tumbuh di tepi sungai atau di tempat yang berair. Allah mengatakan di sini, "Oleh karena kamu adalah umat pilihan-Ku, Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas anak-anakmu. Aku akan membuat mereka tumbuh tinggi dan kuat di dalam Tuhan."

Sementara saudara membaca berulang kali ayat-ayat ini, saya ingin mendorong saudara untuk menyebut nama anak saudara yang terhilang. Tagihlah janji Allah kepada saudara dengan berdoa seperti ini, "Tuhan, Engkau berkata bahwa Engkau akan mencurahkan Roh-Mu ke atas anakku. Sekarang, Tuhan, berkatilah Michael, anakku. Curahkanlah Roh-Mu ke atas anakku yang masih kecil, Susan. Buatlah mereka haus akan air kehidupan-Mu."

Akhirnya, Allah berkata bahwa anak-anak saudara akan bersaksi, "Aku kepunyaan Tuhan" (ayat 5). Sungguh suatu janji yang luar biasa.

Tetapi janji-janji ini bukanlah bagi orang yang cuma berkata, "Saya milik Kristus." Janji-janji ini hanyalah bagi orang tua yang lapar dan haus, yaitu mereka yang menyantap firman Allah setiap hari, berdoa dengan teratur, dan meminta Roh Kudus untuk mencurahkan kuasa dan hadirat-Nya kepada mereka.

Jika ini menggambarkan diri saudara, pintalah janji-janji Allah ini. Akuilah bahwa janji-janji ini adalah milik saudara, dan dalam doa saudara, pintalah Tuhan untuk menepatinya. Kemudian bungkuslah selalu keluarga saudara dalam doadan saksikanlah musuh-musuh melarikan diri dari saudara.

Download PDF