Anda Tak Dapat Memikul Salib Anda Sendiri | World Challenge

Anda Tak Dapat Memikul Salib Anda Sendiri

David WilkersonMay 1, 1979

Ini sungguh benar bahwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." Tetapi Yesus sendiri tidak bisa memikul salib-Nya - dan dengan demikian jugalah kamupun tidak dapat memikulnya! Yesus terjatuh ketika memikul beban salib-Nya, keletihan, kelelahan, dan tidak dapat membawanya meskipun hanya untuk selangkah lagi. Yohanes berkata, "Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota." (Yohanes 19:17). Alkitab tidak memberitahu sampai seberapa jauh Yesus memikul salib-Nya. Kita hanya tahu bahwa mereka memaksa Simon, orang Kirene, untuk mengangkatnya dan memikulnya hingga ke tempat penyaliban (Matius 27:32).

Yesus memikul salib-Nya dan berada di bawah pengaruh para penyiksa-Nya yakni seperti anak domba yang akan disembelih. Tetapi Dia tidak bisa membawanya sedemikian lamanya. Yang sebenarnya adalah, Yesus terlalu lemah dan rapuh untuk memikul salib-Nya. Salib itu diletakkan di bahu orang lain. Dia telah mencapai batas akhir dari daya tahan tubuh-Nya sebagai manusia. Dia adalah seorang pria yang secara fisik sudah rusak dan terluka. Seseorang hanya dapat menanggungnya hingga pada batas kemampuannya. Ada titik keterbatasan. Mengapa mereka memaksa Simon untuk memikul salib itu? Apakah Yesus yang terbaring di atas jalan-jalan yang berbatu itu seperti orang yang tak bernyawa, dengan salib berat yang terpanggul di atas bahu-Nya? Apakah mereka menendang-Nya untuk bangkit, mencoba untuk menopang-Nya, dan berusaha memaksa Dia untuk melangkah selangkah lebih maju? Tapi apakah Dia hanya terbaring di sana, dengan tidak berdaya untuk bergerak walau hanya sedikit saja? Salib-Nya telah menjadi terlalu berat untuk dipanggul-Nya.

Apakah arti semuanya ini bagi kita? Apakah Tuhan kita meminta kita untuk melakukan sesuatu yang Dia sendiri tidak bisa melakukan-Nya? Tidakkah Ia berkata, "Barangsiapa tidak memikul salibnya, dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku? (Lukas 14:27). Sebuah salib, yah memang sebuah salib, baik itu salib dari kayu atau salib rohani. Hal ini tidaklah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa, "salib-Nya berbeda - salib kita adalah salib rohani."

Secara pribadi, hal ini memberi saya suatu harapan besar untuk mengetahui bahwa Yesus tidak bisa memikul salib-Nya sendiri. Ini mendorong saya untuk mengetahui lebih dalam bahwa saya bukannya satu-satunya yang dibebani salib hingga jatuh tersungkur ke tanah, tidak mampu untuk meneruskannya dengan kekuatan saya sendiri. Jika kita ingin mengidentifikasinya dengan penyaliban-Nya, kita juga harus mengidentifikasinya dengan langkah-langkah yang mengarah kepada salib. Kita harus menghadapi, hanya sekali saja, suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang bisa memikul salibnya sendiri.

Janganlah mencari beberapa penafsiran yang tersembunyi; Yesus tahu persis apa yang Dia katakan ketika Dia memanggil kita untuk "memikul salib kita dan mengikuti Dia." Dia ingat salib-Nya sendiri. Dia ingat bahwa ada orang lain yang harus memikul salib-Nya. Lalu mengapa Ia meminta kita untuk memikul salib sementara Dia sendiri tahu bahwa dengan segera salib itu akan menghancurkan kita hingga jatuh tersungkur ke tanah? Dia tahu bahwa kita tidak akan bisa melakukannya dengan kekuatan kita sendiri di sepanjang perjalanan ini. Dia tahu semua hal mengenai segala penderitaan, ketidakberdayaan, dan beban yang meliputi.

Ada suatu kebenaran tersembunyi di sini yang harus kita ungkapkan. Ini adalah suatu kebenaran yang begitu berdaya dan mendidik, itu pun dapat mengubah cara kita dalam melihat semua kesulitan kita dan kesakitan kita. Dan meskipun kedengarannya hampir asusila untuk menyarankan bahwa Yesus tidak memikul salib-Nya sendiri, namun itu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Apakah artinya bagi kita pada saat ini adalah bahwa Yesus, yang tersentuh oleh perasaan kelemahan kita, harus mengalaminya bagi diri-Nya sendiri yakni bagaimana rasanya menjadi lemah, putus asa dan tidak mampu untuk meneruskannya tanpa bantuan. Dia dalam segala hal telah dicobai sama seperti kita. Godaan itu bukanlah dalam hal kegagalan, bukan dalam hal meletakkan salib akibat kelemahan; godaan yang sebenarnya adalah dalam hal mencoba untuk mengambil salib itu dan memikulnya dengan kekuatan kita sendiri. Allah bisa saja secara supranatural mengangkat salib itu dan secara ajaib mengangkatnya sepanjang jalan menuju Kalvari. Kemudian, juga, Ia bisa saja mengangkat beban berat salib itu dan membuatnya seperti mengangkat bulu. Tetapi Dia tidak melakukannya. Adegan penyaliban bukanlah serangkaian kesalahan, meskipun Kristus telah mati di tangan orang-orang berdosa, seluruh rencana itu telah terbebani di dalam hati Allah sejak dasar dunia ini didirikan. Tuhan menaruh Simon orang Kirene di sana, siap untuk memainkan perannya dalam rencana penebusan. Allah tidak terkejut ketika Putra-Nya tidak bisa lagi memikul salib-Nya dan dengan demikian justru memenuhi nubuatan para nabi. Allah tahu bahwa Yesus akan memikul salib-Nya, berjalan ke arah Golgota, kemudian meletakkannya.

Allah juga tahu bahwa tak seorangpun dari anak-anak-Nya dapat memikul salib mereka ketika mereka mengikuti Kristus. Kita memiliki begitu besar keinginan untuk menjadi murid yang baik; kita sangat ingin menyangkal diri dan memikul salib kita sendiri; kita tampaknya lupa bahwa pada suatu hari, salib yang sama akan membawa kita ke titik akhir dari kekuatan dan daya tahan manusia. Apakah Yesus sengaja meminta kita untuk memikul sebuah salib yang Dia tahu akan memeras seluruh energi manusia dan meninggalkan kita terkapar tak berdaya - bahkan sampai menyerah? Sesungguhnya ya! Yesus memperingatkan kita bahwa, "… sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15: 5). Jadi Dia meminta kita untuk memikul salib kita, berjuang dengan salib itu, sampai kita belajar suatu pelajaran. Bukannya menunggu sampai salib kita mendorong kita hingga jatuh tersungkur ke dalam debu sehingga kita dapat mempelajari suatu pelajaran bahwa bukan oleh kekuatan kita atau kekuasaan atau daya upaya kita sendiri, melainkan dengan kuasa-Nya. Itulah yang dimaksud Alkitab ketika mengatakan bahwa kekuatan-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan kita. Tetapi ini tidak pernah berarti bahwa cara Allah lebih baik sedikit daripada cara kita atau kekuatan-Nya agak sedikit lebih unggul dari kekuatan kita. Ini berarti bahwa cara Allah adalah satu-satunya cara; Kekuatannya adalah satu-satunya harapan.

Yesus memandangi dunia ini, yang dipenuhi dengan anak-anak yang bingung yang akan mencoba untuk membangun kebenaran mereka sendiri, berusaha untuk menyenangkan-Nya dengan cara mereka sendiri, dan Dia memintanya melalui salib. Salib ini dimaksudkan untuk menghancurkan kita, untuk menguras habis diri kita dari semua usaha manusia. Kita tahu bahwa kita lebih kuat dari Simon orang Kirene yang akan mengerahkan sekuat tenaga kita hingga ke titik puncaknya dan mengambil alih beban itu, namun Dia tidak bisa mengambil alih beban itu kecuali kita menyerah, sampai kita terbentur dan menangis, "Tuhan, aku tak dapat melangkah lebih jauh lagi. Aku lelah! Aku hancur! Kekuatanku telah hilang! Aku merasa seperti orang mati! Tolonglah aku! "

Yesus disalibkan "melalui kelemahan" (2 Korintus 13: 4). Ini terjadi ketika kita menjadi benar-benar sangat lemah dan merendahkan diri hingga kita menyaksikan sendiri bahwa kita dibuat-Nya menjadi kuat, oleh karena iman kita kepada Tuhan. Roh kita sangat berkeinginan untuk memikul salib kita sendiri, tetapi daging kita lemah. Paulus bisa bermegah dengan salibnya, dan bersukacita di dalam kelemahannya itu. Dia berkata, "… Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.  … Karena itu aku senang dan relah di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat."(2 Korintus 12: 9,10).

Paulus tidaklah lemah dan kuat pada saat yang bersamaan. Dia bertumbuh dalam kelemahan oleh karena masalah dan kesukaran. Tetapi ketika ia dilemparkan jatuh tersungkur ke tanah oleh karena salibnya, ia tidak putus asa. Di dalam kelemahannyalah ia menjadi kuat. Paulus bersukacita di dalam proses yang membuatnya menjadi lemah karena itulah rahasia kekuatannya bersama Kristus. "Yang paling membuatnya bersukacita adalah bahwa kuasa Kristus turun menaungiku.”

Berupa apakah salib anda? Ini adalah setiap beban atau tekanan yang mengancam untuk menghancurkan anda hingga jatuh tersungkur. Teman-teman yang kecanduan narkoba menyebut salib mereka sebagai "suatu beban yang menjerat." Itu bukanlah referensi penghujatan terhadap salib. Ini hanya mendefinisikan citra mereka mengenai suatu beban yang meremukkan mereka hingga jatuh tersungkur ke tanah. Saya sering mendengar suami dan istri mengacu pernikahan mereka sebagai "salib yang harus ditanggung." Orang lain melihat salib mereka itu sebagai pekerjaan tak memuaskan, suatu penyakit, suatu keadaan di mana merasa kesepian atau perceraian. Saya telah mendengar segala macam definisi tentang salib yang coba diwujudkan dengan kata-kata. Saya bahkan mendengar bahwa para kaum homoseksual memandang kebiasaan mereka itu sebagai salib yang berat. Sejak Yesus menjelaskan rincian salib yang harus kita pikul, saya menyarankan bahwa salib itu adalah sesuatu yang akan mempercepat suatu krisis di dalam kehidupan rohani kita. Misalnya, kesepian bisa menjadi salib jika itu menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung dan akhirnya membawa kita kepada kehancuran diri kita sendiri. Hal ini kemudian akan menjadikan kita untuk dapat merelahkan Tuhan mengulurkan tangan-Nya kepada kita dan mengangkat kita keluar dari kepedihan dan perusakkan diri. Kesepian akan menjadi hal yang baik jika itu membuat kita menjadi cukup lemah demi hanya menginginkan kekuatan-Nya.

Salib saya aneh tapi tidak asing bagi banyak orang. Saya selalu dibebani oleh rasa "tidak pernah cukup melakukannya." Salib ini biasanya menjadi beban yang terberat setelah saya menulis sebuah buku yang laris; atau setelah memberitakan Injil kepada ribuan orang; setelah meluncurkan program makanan untuk anak-anak yang kelaparan; setelah konseling dengan ratusan pasangan yang bermasalah. Saya berhenti selama beberapa minggu, melakukan inventarisasi hidup dan pelayanan saya, dan sesuatu dalam diri saya pun menjadi gelisah. Saya mengalami depresi dan saya mengaku pada istri dan teman-teman saya bahwa, "Saya tidak merasa seperti saya sedang melakukan sesuatu untuk Tuhan. Saya tidak melakukannya seperti yang seharusnya. Kadang-kadang saya merasa sangat tidak berguna."

Sudah seringkali saya mendapatkan perasaan yang kelihatannya "belum selesai". Saya merasa saya membuang-buang waktu terlalu banyak untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Sulit untuk bersantai ketika suara di dalam hati mengutuk anda karena tidak "bergelora bagi Yesus." Saya pikirkan semua hal yang saya janjikan pada diri saya sendiri untuk melakukan sesuatu; proyek yang akan saya selesaikan; pertumbuhan di dalam Allah yang ingin saya capai - dan banyak hal lain yang tidak akan pernah tercapai. Saya menuduh diri saya sendiri sebagai pemalas. Lainnya tampaknya begitu disiplin dan termotivasi, dan saya membayangkannya dalam pikiran saya bahwa semuanya lewat begitu saja, meninggalkan saya di belakang di dalam debu. Tapi Allah akan meminta saya untuk terus memikul salib itu setiap hari, sampai akhirnya saya mendapatkan yang terbaik. Buktinya adalah bahwa itu merupakan bagian dari hidup saya yang belum di bawah kendali-Nya. Suatu hari, saya akan jatuh ke dalam keputusasaan dan tangisan, "Tuhan, saya sudah tidak peduli lagi. Biarkanlah dunia meninggalkan saya. Biarkanlah mimpi saya semuanya menjadi pudar. Biarkanlah saya menjadi bukan apa-apa selain seorang murid yang taat. Saya tidak ingin bersaing dengan diri saya sendiri atau orang lain. Tak ada lagi tujuan yang bersifat egois. Ambil alihlah, Tuhan, dan angkatlah beban saya. "Itu terjadi ketika Tuhan melangkah masuk dan berbisik, "Sekarang David, biarkanlah Aku membawa beban anda."

Kadang-kadang kebanggaan rohani dapat menjadi salib. Anda memanggul sebuah beban berat ketika anda mulai bersaksi tentang hal-hal hebat yang Allah lakukan dalam hidup anda. Allah memberikan anda suatu semangat yang patah dan penyesalan. Orang-orang lainnya datang kepada anda memohon bantuan dan untuk mendapatkan berkat-berkat. Anda digunakan Allah dengan cara yang indah dalam mendorong orang-orang di sekitar anda. Itu pun mulai bersinar fajar pada anda, "Wow! Saya memiliki sukacita yang besar. Allah telah membuat saya menjadi begitu lembut dan penuh kasih. Akhirnya saya belajar bagaimana mengatasi godaan saya dan saya bertumbuh dengan begitu lebat di dalam Tuhan. Saya merasa bahwa saya seperti akan menerobos ke dalam kehidupan kemuliaan dan kekuasaan rohani. Akhirnya, saya telah mencapai puncak kepercayaan dan perdamaian. Saya tidak pernah ingin kembali ke tempat saya yang dulu."

Seminggu kemudian anda menyembah-nyembah hingga mencium tanah dan dalam debu; balon rohani anda meletus, dan segala sesuatu tampaknya telah terkuras habis dari anda. Yang bisa kita katakan adalah, "Apakah yang terjadi? Saya belum berbuat dosa terhadap Allah? Saya belum meragukanNya. Kegembiraan tiba-tiba menghilang. Saya tampaknya tidak memiliki apa-apa lagi dalam diri saya saat ini untuk diberikan kepada orang lain. Saya kering dan kosong. Mengapa saya tidak bisa menyimpan perasaan-perasaan yang indah?"

Dengarkanlah, teman - Allah tidak akan mengizinkan anda untuk merasa seperti anda telah sampai. Itulah masalah yang dihadapi oleh terlalu banyak umat Kristiani saat ini. Melihat jalan kembali, mereka menerima berkat yang besar dari Tuhan. Allah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam hidup mereka. Roh Kudus turun atas mereka dan menciptakan hidup baru bagi mereka, secara terus menerus. Itulah kemuliaan mereka dan mereka mulai memberitahukan dunia tentang kebangkitan rohani mereka. Dan itu sudah mulai menurun saat ini. Mereka telah mengalami kenaikan rohani yakni suatu pengalaman yang hebat, dan dalam proses, mereka menjadi puas diri dengan kebanggaan pribadi. Dengan mengambil pelajaran ketika anda berpikir bahwa anda bertahan, janganlah sampai anda terjatuh. Akhirnya ketika seorang umat Kristiani yang diberkati merasa lemah dan kosong. Setelah mencoba dengan kegagalan dalam menemukan dan menciptakan berkat-berkat, ia akhirnya menyerah dalam keputusasaan. Ia berseru, "Aku sudah mati secara rohani. Aku kehilangan hadirat Allah. Aku merasa seperti palsu. Aku tidak bisa kembali ke tempatku yang semula di dalam Tuhan."

Kasih anda bagi Yesus dapat membuat anda jatuh tersungkur dengan lutut anda, tetapi salib anda akan menempatkan anda jatuh terjerembab dengan wajah anda - menyentuh tanah di dalam debu. Allah pun memenuhi anda dalam kondisi bersujud dan berbisik, "Aku telah memilih yang lemah dari dalam dunia ini; hal-hal yang bodoh, hal-hal yang rusak, hal-hal yang tak berguna – dimana tidak ada lagi hasrat kedagingan yang harus dimegahkan di hadirat-Nya."

Anda harus memikul salib anda sampai anda belajar bagaimana menyangkal diri. Menyangkal terhadap apa? Ada satu hal yang selalu menghalangi pekerjaan Allah dalam hidup kita – yakni kemandirian. Lihatlah kembali apa yang Yesus katakan, "… Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Kita salah artikan pesan ini jika kita menekankan penyangkalan diri itu sebagai penolakan materi atau hal-hal yang melanggar hukum. Yesus tidak memanggil kita untuk belajar mendisiplin diri sendiri sebelum kita sendiri memikul salib kita. Hal ini sebenarnya jauh lebih parah dari pengertian seperti itu. Yesus meminta agar kita menyangkal diri kita sendiri. Ini berarti mengingkari kemampuan anda sendiri untuk memikul setiap salib dengan mengandalkan kekuatan anda sendiri. Dengan kata lain, "Janganlah anda memikul salib sampai anda sendiri siap untuk menolak setiap pemikiran dan apapun bentuk pemikiran itu mengenai bagaimana menjadi seorang murid yang suci sebagai hasil dari usaha anda sendiri."

Ada jutaan umat Kristiani yang membual membanggakan diri tentang penyangkalan diri mereka sendiri. Mereka tidak minum atau merokok atau melakukan kutukan atau berzina - mereka adalah contoh yang luar biasa dalam mendisiplin diri. Tapi tidak perlu menunggu waktu hingga seratus tahun untuk mengakui bahwa itu dilakukan dengan kemauan mereka sendiri. Bahkan, mereka dengan cepat menambahkan dengan pernyataan seperti berikut: "Saya dapat berhenti kapan saja saya mau. Iblis tidak bisa menipu saya. Saya tahu apa yang benar dan saya mencoba untuk melakukannya. Saya mematuhi semua perintah. Saya bersih, orang yang bermoral. Saya tidak berbohong atau menipu dan saya setia pada janji pernikahan saya." Mereka berlatih penyangkalan diri, tetapi mereka tidak pernah menyangkal diri. Dalam beberapa hal, kita semua seperti itu. Kita mengalami "ledakan" kekudusan, disertai dengan perasaan kemurnian. Perbuatan baik biasanya menghasilkan perasaan yang baik. Tetapi Allah tidak akan membiarkan kita untuk berpikir bahwa perbuatan baik kita dan kebiasaan yang murni bersih itu dapat menyelamatkan kita. Itulah sebabnya kita memerlukan salib.

Saya percaya Yesus sebenarnya mengatakan kepada kita, "Sebelum anda memikul salib anda, bersiaplah untuk menghadapi suatu saat yang sebenarnya. Bersiaplah untuk mengalami krisis dimana anda akan belajar untuk menyangkal keinginan anda sendiri, kebenaran pribadi anda sendiri, kemandirian anda sendiri, kekuatan anda sendiri. Anda dapat bangkit dan mengikut Aku sebagai murid yang sejati hanya apabila anda mengakui bahwa anda tidak dapat melakukan apapun dalam kekuatan anda sendiri - Anda tidak dapat mengatasi dosa anda dengan kemampuan anda sendiri – godaan-godaan anda tidak bisa diatasi dengan usaha anda sendiri - anda tidak bisa mengerjakannya dengan memakai kecerdasan anda sendiri.

Dia berkata, "Biarkanlah Dia memikul salibnya." Tidak pernah sekalipun Tuhan kita mengatakan, "Membungkuklah dan biarkanlah Aku menaruh salib pada anda." Yesus tidak sedang melakukan pendaftaran untuk para sukarelawan-sukarelawati dalam membela negara; Semua pasukanNya adalah para sukarelawan-sukarelawati. Tidak semua umat Kristiani memikul salib. Anda bisa saja menjadi orang percaya tanpa memikul salib, tetapi anda tidak dapat menjadi muridNya. Saya melihat begitu banyak orang percaya yang menolak jalan salib. Mereka telah memilih untuk hidup baik dengan kemakmurannya, keuntungan materialnya, popularitas dan kesuksesan. Saya yakin banyak dari antara mereka yang sedang membuat surga duniawi - mereka akan menyelamatkan kulit mereka, tetapi mereka tidak akan belajar dari Kristus. Mereka telah menolak penderitaan dan kesedihan salib, mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk mengetahui dan menikmati Dia di dalam keabadian, seperti yang dilakukan oleh semua orang kudus yang telah memasuki persekutuan di dalam penderitaan-Nya.

Mereka yang menderita akan memerintah bersama-sama. Saya tidak memuliakan penderitaan dan rasa sakit - hanya hasil yang telah mereka hasilkan dari penderitaan itu. Seperti Paulus, kita harus melihat pencobaan dan kesakitan yang sedang kita alami dan bersukacita karena kita tahu bahwa terjatuhan kita membawa kita ke dalam jalanan yang menuju satu-satunya kemenangan akhir dan kematangan. Tidak lama lagi, kita melihat semua beban dan masalah kita sebagai suatu kecelakaan dan denda yang harus dibayar tetapi itu semua sebenarnya merupakan sebuah salib yang ditawarkan untuk kita belajar tunduk pada cara Allah dalam mengerjakan sesuatu bagi kita. Jika anda sedang kesakitan saat ini, anda sedang dalam proses penyembuhan. Jika anda sedang kecewa, hancur dengan beban berat, maka bersiap-siaplah! Tuhan akan menunjukkan kekuatan-Nya kepada anda. Anda sedang berada pada wahyu yang akan diungkapkan. Kapan saja, sejak saat ini, “Simon dari Kirene”mu akan muncul karena Allah menggunakan manusia untuk melakukan kehendak-Nya. Seseorang akan dituntun oleh Roh Kudus untuk mendatangi penderitaan anda, menjangkau anda, dan membantu mengangkat beban anda.

Sahabatku yang saya kasihi, janganlah berpikir bahwa pencobaan itu sebagai hukuman dari Allah. Janganlah mengutuki diri anda sendiri seolah-olah anda telah tersungkur jatuh sebagai akibat hukuman atas kegagalan anda. Berhentilah berpikir bahwa, "Tuhan menghendaki saya membayar dosa saya." Mengapa anda tidak dapat melihatnya bahwa apa yang terjadi terhadap diri anda merupakan hasil dari cinta-kasih-Nya? Apakah anda sedang didera? Apakah anda merasa seperti anda sedang terseret ke dalam masalah? Apakah anda sedang sakit? Dalam penderitaan? Bagus! Itu semua merupakan bukti dari cinta-kasih-Nya terhadap anda. Berserahlah! Pikullah salib anda! Bersiaplah untuk jatuh tersungkur dan bahkan terjatuh lebih dalam lagi! Bersiaplah untuk mencapai ke titik krisis anda! Bersiap-siaplah untuk mencapai akhir dari diri anda sendiri! Bersiaplah untuk menyerah! Bersiaplah untuk mencapai bagian yang paling bawah!

Semoga anda mengerti bahwa anda sedang berada di sekolah pemuridan milik Kristus sendiri. Bersukacitalah bahwa anda akan menjadi lemah untuk dapat mengalami kekuatan kuasa-Nya di dalam anda. Dia telah meletakkan salib-Nya ke tanah; mengapa anda tidak melakukannya juga? Dalam peritiwa Yesus, Simon orang Kirene itupun muncul dan membantu-Nya. Sedangkan dalam peristiwa kita, Juruselamatlah yang muncul. Kita bangkit dan tetap terus melanjutkannya. Ini masih salib kita sendiri - tapi sekarang salib itu berada di bahu-Nya.

"Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"(Pengkhotbah 4: 9,10).

Download PDF