Yesus dan Badai | World Challenge

Yesus dan Badai

David WilkersonMarch 1, 1978

Yesus memerintahkan murid-murid-Nya naik ke dalam perahu yang sedang menuju ke dalam malapetaka. Alkitab mengatakan bahwa Ia "membatasi diri mereka untuk masuk ke dalam perahu ..." Perahu itu sedang menuju perairan yang bermasalah; akan diombang-ambingkan seperti gabus; para murid akan didorong masuk ke dalam pengalaman Titanic yang mini - dan Yesus mengetahui semuanya itu sepanjang waktu.

"Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang." (Matius 14:22).

Di manakah Yesus? Di atas pegunungan yang menghadap ke arah danau itu. Dia berada di sana sedang berdoa bagi mereka untuk tidak gagal dalam tes ini. Dia tahu bahwa mereka harus melewati semuanya itu. Perjalanan dengan perahu, badai, gelombang yang bergelora, dan angin badai merupakan bagian dari pencobaan yang telah direncanakan oleh Bapa. Mereka akan mempelajari pelajaran terbesar yang pernah mereka pelajari dalam hidup mereka. Dan itulah caranya bagaimana mengenali Yesus di dalam badai kehidupan.

Hingga pada saat itu, mereka mengenali-Nya sebagai seorang pembuat mukjizat, Manusia yang mengubah roti dan ikan menjadi makanan yang ajaib. Mereka mengakui Dia sebagai sahabat orang berdosa. Seseorang yang menganugerahkan keselamatan bagi setiap jenis manusia yang terhilang. Mereka mengetahui Dia sebagai pemasok semua kebutuhan mereka, bahkan membayarkan pajak mereka dengan uang yang didapat dari mulut seekor ikan.

Mereka mengakui Yesus sebagai "Mesias, Putra Allah yang tunggal." Mereka tahu bahwa Dia memiliki sabda yang membawa mereka ke dalam kehidupan yang kekal. Mereka tahu bahwa Dia memiliki kuasa atas semua pekerjaan iblis. Mereka mengenal Dia sebagai guru, yang mengajarkan mereka bagaimana caranya untuk berdoa, untuk mengampuni, untuk mengikat dan melonggarkan.

Tetapi mereka tidak pernah belajar untuk mengenali Yesus di dalam badai kehidupan. Dan tragisnya, para murid yang berpikir bahwa mereka yang sungguh-sungguh mengenal Dia, tidak bisa mengenali-Nya ketika badai menghantam mereka.

Itulah akar dari sebagian besar masalah kita hari ini. Kita percaya kepada Yesus untuk perbuatan mujizat dan penyembuhan. Kita percaya kepada-Nya untuk keselamatan kita dan pengampunan dosa-dosa kita. Kita memandang-Nya sebagai pemasok semua kebutuhan kita. Kita percaya bahwa pada suatu saat nanti, Dia akan membawa kita ke dalam kemuliaan. Tapi ketika badai tiba-tiba menerpa kita dan semuanya kelihatan berantakan, kita merasa sulit untuk melihat Yesus mendekati kita. Kita tidak bisa percaya bahwa Dia mengizinkan badai tersebut untuk mengajarkan kita bagaimana untuk percaya. Kita tidak pernah begitu yakin bahwa Dia dekat dengan kita ketika semuanya sungguh-sungguh menjadi kacau balau.

Perahu ini sekarang sedang berlayar; tampaknya akan tenggelam; angin sedang bertiup kencang; segalanya kelihatan bertentangan dengan keinginan mereka.

"Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (Matius 14:24-27).

Tiba-tiba, mereka begitu kebanjiran, begitu kewalahan, pikiran tentang Yesus yang berada dekat dan sedang mengawasi mereka itu menjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Seseorang mungkin mengatakan, "Ini adalah pekerjaan setan – si iblis berkeliaran untuk membunuh kita - sebab semua keajaiban yang kita punyai merupakan bagian dari pekerjaan iblis itu."

Yang lain berkata, "Di manakah yang salah dari kita ini. Siapakah diantara kita yang  memiliki dosa di dalam hidupnya. Marilah kita memiliki hati yang mencari; Marilah kita masing-masing mengakui kesalahan kita satu dengan yang lainnya. Tuhan marah pada seseorang yang berada dalam perahu ini."

Murid lainnya bisa saja berkata, "Mengapa kita? Kita sedang melakukan apa yang dikatakanNya kepada kita! Kita taat! Kita tidak keluar dari kehendak Tuhan. Mengapa tiba-tiba datang badai ini? Mengapa Allah mengizinkan kita untuk terguncang begitu hebat pada saat kita sedang melaksanakan misi Ilahi?"

Dan di saat yang paling gelap, "Yesus pergi menemui mereka ..." Betapa sulitnya bagi Yesus untuk menunggu di tengah badai, dengan rasa cinta yang sungguh-sungguh kepada mereka, sedang merasakan setiap kepedihan yang mereka rasakan, betapa besarnya keinginanNya untuk menjaga mereka agar tidak terluka, kerinduanNya menjaga mereka seperti seorang ayah terhadap anak-anakNya yang sedang dalam kesulitan! Namun, mengetahui bahwa mereka tidak pernah dapat sepenuhnya mengenal Dia atau mempercayai-Nya hingga akhirnya timbul keganasan badai yang menimpa mereka. Dia hanya akan menyatakan diri-Nya ketika mereka telah mencapai batas akhir dari iman mereka. Perahu tersebut tidak seharusnya akan pernah tenggelam, tetapi ketakutan merekalah justru yang akan menenggelamkan mereka lebih cepat daripada gelombang yang menerpa perahu mereka. Satu-satunya ketakutan akan tenggelam adalah rasa putus asa - bukan air danau yang bergelora - dan bukan ketakutan dan bukan kecemasan!

Ingatlah, Yesus dapat menenangkan badai yang datang kapan saja, hanya dengan sabdaNya, tetapi murid-muridNya tidak akan dapat melakukannya. Bisakah iman mereka dipraktekkan? Tidak bisakah mereka dalam nama Yesus memerintahkan danau untuk tenang - "karya-karya yang lebih besar seharusnya dapat mereka lakukan." Tidak bisakah kita mempraktekkan janji –janji Allah - "Semua hal yang diminta dalam doa ... kamu akan sudah memilikinya!" Bukan pada saat kita telah lulus dalam belajar mengenali Yesus di dalam badai ini! Bukan pada saat kita telah menerima iman untuk menghalau badai ini! Tidak pula pada saat kita belajar untuk "bersenanghati" ketika perahu kita tampaknya akan tenggelam.

"Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", ...." (Matius 14:26).

Mereka tidak mengenali Yesus di dalam badai itu! Mereka melihat hantu - sebuah penampakan/penglihatan. Pikiran akan Yesus menjadi begitu dekat, namun begitu terpisah jauh dari pengalaman hidup yang akan mereka lalui, bahkan tidak masuk akal pikiran mereka.

Inilah bahaya yang kita hadapi - tidak bisa melihat Yesus pada saat kita dalam kesulitan. Sebaliknya, kita melihat hantu. Pada saat rasa ketakutan memuncak, ketika malam menjadi begitu kelam, badai tersebut mengamuk dengan kemarahan yang terparah, angin pun bertiup sekeras-kerasnya, dan keputusasaan menjadi begitu melimpah ruah, namun Yesus selalu mendekat kepada kita untuk menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan atas banjir - Juruselamat di tengah badai yang mengamuk.

"Tuhan bersemayam di atas air bah, TUHAN bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya" (Mazmur 29:10).

Mereka bertambah khawatir. Sekarang, mereka tidak hanya takut akan badai, mereka memiliki ketakutan baru – para hantu! Badai itu memuntahkan para hantu. Roh misterius sedang dilepaskan!

Anda akan berpikir bahwa setidaknya seorang murid akan mengenali apa yang terjadi dan berkata, "Lihatlah teman-teman, Yesus berkata bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan atau membiarkan kita. Dia mengirim kita untuk suatu misi; kita sedang berada di pusat kehendak-Nya. Dia berkata bahwa langkah-langkah dari orang benar diperintahkan oleh Yesus sendiri. Lihatlah kembali – itu adalah Tuhan kita; Dia berada di sini. Dia tidak pernah jauh, kita tidak pernah sekalipun keluar dari pandangan-Nya. Semuanya terkendali."

Tetapi tidak seorang murid pun yang dapat mengenali-Nya! Mereka tidak mengharapkan kehadiranNya di tengah badai mereka. Mereka mengharapkan-Nya berada di dekat sumur Samaria. Mereka mengharapkan Dia untuk berada di sana dengan tangan yang terentang, mengundang anak-anak kecil untuk datang; atau berada di Bait Allah sedang mengusir para penukar uang; mengharapkanNya bahwa pada suatu hari kelak berada di sisi kanan Allah Bapa untuk menobatkan mereka sebagai raja-raja dan imam-imam. Tetapi tidak pernah, sekalipun tidak pernah mengharapkan Dia untuk bersama-sama mereka, berada dekat dengan mereka - bahkan di saat dalam ketenggelaman!

Bagi mereka hal ini merupakan sebuah suratan takdir! Sebuah bencana yang tak terduga! Sebuah kecelakaan tragis yang sudah menjadi nasib mereka! Sesuatu yang tidak diinginkan, tak terduga, pencobaan yang tidak perlu! Sebuah kesepian, perjalanan yang menakutkan menuju ke kegelapan dan keputus-asaan! Sebuah malam yang pantas dilupakan!

Tapi Tuhan melihat badai tersebut melalui mata yang berbeda! Badai itu menjadi pencobaan bagi para murid seperti pencobaan bagi Yesus di padang gurun. Tuhan membawa mereka jauh dari mukjizat-mujizat, mengurung mereka di dalam sebuah perahu yang kecil dan lemah yang jauh dari ruang atas pada saat perjamuan terakhir, dan kemudian Dia membalikkan alam semesta ini. Tuhan mengizinkan mereka untuk digoncangkan - tetapi tidak untuk ditenggelamkan!

Hanya ada satu pelajaran yang harus dipelajari - hanya satu! Sebuah pelajaran sederhana - tidak begitu dalam, bukan mistikal, maupun menggemparkan dunia. Yesus hanya ingin dipercayai sebagai Tuhan mereka dalam setiap badai kehidupan. Dia hanya menginginkan mereka agar tetap bergembira dan percaya diri bahkan pada saat-saat yang paling gelap dari pencobaan. Itu saja!

Yesus tidak ingin mereka berpikir mengenai hantu! Tapi mereka memang melakukannya, sama seperti kita semua masih berpkir mengenai hantu. Setiap orang di dalam perahu telah tersihir oleh dirinya sendiri terhadap hantu. Olehkarena itu, Yesus harus muncul sebagai dua belas hantu yang berbeda ke dalam kedua belas pikiran para murid secara terpisah.

Mungkin salah satu pemikiran terhadap dirinya sendiri adalah seperti ini, "Saya tahu mengenai hantu itu! Itulah hantu kebohongan. Saya telah berbohong beberapa minggu yang lalu. Itulah badai yang sebenarnya. Itulah sebabnya maka kita dalam keadaan bermasalah; karena saya berbohong. Itulah hantu kebohongan, mencoba untuk memperingatkan saya untuk berhenti berbohong. Saya mau! Saya mau! Keluarkanlah saya dari kekacauan ini dan saya akan berhenti berbohong."

Yang lainnya mungkin berpikir, "Itulah hantu kemunafikan! Saya bermuka dua. Saya palsu. Sekarang saya bisa melihat siapakah sebenarnya saya dalam badai ini. Itulah sebabnya mengapa terjadi badai! Allah mengutus hantu yang memperingatkan saya untuk meluruskan. Saya mau! Saya mau! Tidak ada lagi kemunafikan - bebaskanlah saya."

Yang lain berkata - "Itulah hantu kompromi. Saya sudah berkompromi akhir-akhir ini. Ya, ampun. Saya sungguh-sungguh telah gagal, Tuhan. Sudah menjadi rahasia yang saya coba untuk disembunyikan. Tapi saya takut sekarang. Engkau mengizinkan badai ini: Engkau mengirimkan hantu itu untuk memperingatkan saya untuk kembali kepada kekudusan. Saya mau! Saya mau! Berikanlah saya sebuah kesempatan lagi."

Yang lainnya berkata - "Itulah hantu iri hati! Saya sudah terlampau materialistis."

Yang lainnya berkata - "Itulah hantu waktu yang terbuang! Saya bertumbuh dewasa dengan kemalasan. Saya belum bersaksi! Saya sudah bertumbuh menjadi dingin, suam-suam kuku. Saya sudah kapok …."

Yang lainnya berkata - "Itu adalah hantu dendam. Saya sudah tidak mengampuni seperti yang seharusnya saya lakukan. Saya sudah menghindari orang-orang tertentu. Itulah sebabnya Allah menggoncangkan saya - untuk mengajarkan saya untuk berhenti menyimpan dendam."

Yang lainnya berkata - "Itu adalah hantu dari dosa rahasia! Pikiran-pikiran jahat. Saya tidak bisa untuk kelihatannya menyerah, maka Allah harus mengirimkan badai ini untuk membongkar rahasia saya."

Yang lain lagi berkata - "Itu adalah hantu yang tidak menepati janji. Saya berjanji pada Allah bahwa saya akan melakukan hal ini, tetapi saya tidak melakukannya. Sekarang, Allah menagih janji pada saya. Dia marah kepada saya, maka dari itu Dia menempatkan saya dalam badai ini. Maafkan saya. Itulah pelajaran yang saya terima - Saya sudah kapok."

Tidak! Tidak! Seribu kali bukan! Mereka semua adalah hantu dari pikiran kita sendiri – hanya sebuah penampakan/penglihatan saja. Tak satu pun yang menjadi pelajaran nyata yang harus kita dipelajari. Allah tidak marah kepada anda. Anda tidak berada dalam badai karena anda telah gagal. Hantu-hantu ini bahkan tidak berada dalam badai anda.

Ini adalah Yesus di dalam karya pelayananNya, berusaha untuk menyatakan diri-Nya dalam rangka penyelamatan-Nya, penjagaan-Nya, pelestarian kekuasaan-Nya! Dia ingin anda tahu bahwa badai ini memiliki satu tujuan yaitu untuk membawa anda ke tempat peristirahatan yang seutuhnya dan percaya akan kuasa dan kehadiran-Nya setiap saat. Di tengah mukjizat –mujizat itu - dan di tengah-tengah badai itu! Sangatlah mudah untuk kehilangan rasa kehadiran-Nya dalam suatu badai dan merasa bahwa kita dibiarkan sendirian untuk berperang melawan rintangan keputus-asaan; bahwa sehubungan dengan itu, sebagai akibat dari dosa atau kompromi, Kristus telah mengabaikan kita dan meninggalkan kita  sendirian di luar sana di sebuah perahu yang terombang-ambing.

Bagaimana dengan saat-saat ketika angin sebaliknya adalah penyakit, kesakitan, dan rasa sakit? Ketika kanker menyerang? Ketika rasa sakit dan ketakutan yang begitu bertubi-tubi, anda tidak dapat meluangkan sekilas pikiran anda tentang kedekatan Yesus? Badai anda yang menyerang dengan tiba-tiba dan tidak ada pikiran lainnya selain pikiran untuk bertahan hidup. Anda tidak ingin mati. Anda ingin hidup! Anda melihat hantu kematian dalam bayang-bayang dan anda gemetar. Anda tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya bahkan pada saat berikutnya.

Itulah kehadiran Yesus yang sesungguhnya. Ini adalah sebuah wahyu yang paling berdaya kekuatan ketika datang kepada kita pada saat yang paling kita butuhkan.

Download PDF