Ampunilah saya Tuhan karena membuatMu menangis | World Challenge

Ampunilah saya Tuhan karena membuatMu menangis

David WilkersonJuly 31, 2006

Lukas 19 memberikan gambaran yang kuat kepada kita tentang perjalanan Yesus yang terakhir memasuki kota Yerusalem. Kristus mendekati kota dengan menunggang keledai dengan diiringi seruan pujian dari kerumunan orang banyak. Dia memulainya dari Bukit Zaitun, dan semakin Dia mendekati pintu gerbang kota besar itu semakin berlimpah orang berkerumun. Dengan segera orang-orang itu menebarkan pakaian mereka ke hadapanNya, sambil melambaikan daun palem dan berseru, "Dia ada di sini! Waktunya telah sampai bagi raja Israel yang baru saja tiba. Perdamaian telah datang ke Yerusalem. Akhirnya, kerajaan ada di sini! "

Mengapa ada sukacita, seruan hosanna yang keras seperti itu? "Karena mereka berpikir bahwa Kerajaan Allah akan segera muncul" (Lukas 19:11). Dalam pikiran rakyat, Yesuslah seorang bangsawan yang memberitakan tentang kedatangan penggenapan janji Allah mengenai "kerajaan di bumi."

Namun hal ini tidaklah berarti mereka percaya bahwa Dia adalah Mesias mereka. Mereka berpikir bahwa pemerintahan Allah telah dimulai: "Selamat tinggal, pemerintahan Romawi! Tidak akan ada lagi peperangan, karena raja kami akan bangkit dengan pedang dan akan memenggal setiap musuh. Kita akan melihat perdamaian di Yerusalem dan di Israel, tak ada lagi perbudakan, maupun kekurangan pangan. Pada akhirnya Allah telah mengutus raja yang diharapkan."

Tak seorang pun di tempat kejadian pada hari itu mengharapkan sesuatu akan terjadi selanjutnya. Ketika Yesus turun gunung dan orang banyak menyerukan pujian, Dia memandang ke sekeliling Yerusalem - dan Dia menangis. "Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya" (Lukas 19:41). Ini adalah Allah sendiri yang dalam daging, menangis!

Konsep mengenai Tuhan menangis itu merupakan hal tercela dalam pikiran orang fasik: "Allah menangis? Mengapa ada orang yang menginginkan adanya dewa yang menunjukkan kelemahan? "

Namun menangis adalah hal yang dilakukan Yesus. Alasan apakah yang menyebabkan air mataNya tertumpah? Hal itu sebabkan oleh rakyat yang secara terang-terangan tidak percaya. Anda mungkin berpikir, "Tetapi orang banyak inilah yang bernyanyi memuji Dia, bersorak hosanna. Hal itu tidak terdengar oleh saya sebagai ketidakpercayaan." Namun Alkitab mengatakan Yesus tahu apa yang ada dalam hati manusia. Dan faktanya adalah, dalam waktu singkat orang banyak yang sama inilah yang akan dikeraskan hatinya oleh ketidakpercayaan sehingga akhirnya mereka menjadi pembunuh terhadapNya.

Itu terjadi pada saat-saat yang luar biasa dalam sejarah bangsa Israel bahwa Yesus berseru dalam kesedihanNya yang mendalam atas kekerasan hati rakyat: "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.!” (Matius 23:37).

Ingatlah, orang banyak yang sama inilah yang telah melihat Yesus melakukan pekerjaan ajaib luar biasa di tengah-tengah mereka. Mata yang buta dicelikkan, telinga yang tuli dapat mendengar kembali, orang cacat dapat berjalan, orang mati dibangkitkan - dan orang banyak tersebut telah menyaksikan semuanya. Namun, meskipun bukti-bukti hidup atas penggenapan setiap nubuatan Perjanjian Lama tentang Mesias – meskipun kata-kata nubuatan para nabi yang seharusnya dikuduskan oleh orang banyak ini - mereka akan tetap mengeraskan hati mereka dalam ketidakpercayaan.

Pada intinya Yesus berkata kepada orang-orang ini, "Aku memberimu mukjizat, tanda-tanda, keajaiban. Aku memenuhi kebutuhanmu, menyembuhkan penyakitmu dan memberimu makanan secara ajaib. Aku sudah memberikanmu semua teladan yang menunjukkan kasih Bapa. Tetapi kamu telah menolak cinta itu."

Ketika Yesus memandang ke sekeliling kota, Dia meramalkan ganjaran yang mengerikan akibat kekerasan hati. Namun Dia tidak menginginkan satu orangpun di antara orang banyak itu binasa. Dia masih mengasihi mereka, dan kami mengenal kasih itu dalam tangisanNya: "Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi" (Matius 23:38).

Sesungguhnya, Yesus telah melihat bahwa hari penghukuman atas ketidakpercayaan akan tiba. Dan Dia bernubuat kepada orang banyak itu, "Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau." (Lukas 19:43-44, huruf miring adalah catatan pribadi).

Kristus tahu bahwa dalam waktu sekitar tujuh puluh tahun, Titus, jenderal Romawi akan menyerbu Yerusalem dan meruntuhkan kota itu rata dengan tanah. Dinding yang perkasa akan digulingkan dan Bait Allah akan dihancurkan, membuat teror terhadap seluruh bangsa. Betapa mengerikannya ganjaran yang harus dibayar oleh Israel yang telah menolak secara terang-terangan akan kasih Allah.

Namun masalah ketidakpercayaan tetap sama hingga hari ini: Bagaimanakah perasaan Yesus terhadap semua kekerasan hati dan racun ditujukan kepadaNya saat ini? Ada sikap pemberontakan dan penghujatan yang melanda seluruh dunia yang mengatakan, "Kami tidak akan mau berada di bawah pemerintahan Allah." Saya pribadi tahu apa yang saya rasakan atas sikap ini: kesedihan mendalam dicampur dengan kemarahan. Saya terus bertanya kepada Tuhan, "Bagaimana dunia bisa lepas dari ejekannya terhadapMu sebegitu rupa, dan sampai begitu lama?"

Hal ini menyebabkan saya bertanya-tanya: saat Yesus menangisi Yerusalem, apakah Dia juga merasakan terluka oleh dunia pada masa depan yang akan mengeraskan hati? Apakah Dia melihat bahwa populasi penduduk bumi yang meluas di masa dua milenium ke depan masih juga akan mengejek namaNya? Apakah Dia juga merasa terluka oleh orang-orang percaya di masa depan, yang masih akan menolak Dia di abad mendatang? Adakah air mata yang ditumpahkan oleh Dia pada saat semua penghakiman terjadi di masa yang akan datang sebagai akibat dari ketidakpercayaan?

Pikirkanlah betapa besar kuasa InjilNya yang telah diberitakan selama berabad-abad. Ribuan pendeta dan misionaris sedang memberitakan Kristus ke seluruh dunia saat ini. Banyak orang dari organisasi amal melakukan perbuatan belas kasih dalam namaNya yang tak pernah berakhir. Dan banyak orang tanpa tanda jasa berdiri sebagai saksi tentang cintaNya di tengah-tengah penganiayaan yang mengerikan di seluruh dunia. Namun untuk sebagian besar gereja-gereja milik Yesus Kristus, iman adalah sesaat saja, satu gejala krisis. Setiap kali krisis berikutnya tiba - percobaan datang dengan intensitas yang lebih besar - iman mereka goyah, dan keraguan melanda mereka.

Kami diberitahu dalam seluruh kitab Mazmur dan tulisan-tulisan hikmat lainnya bahwa kita memiliki Tuhan yang tertawa, menangis, bersedih, yang kemarahanNya dapat dibangkitkan. Demikian juga, Perjanjian Baru mengatakan bahwa kita memiliki Imam Besar di surga yang tersentuh oleh perasaan kelemahan kita, manusia yang sama yang terdiri dari darah dan daging, yang adalah Allah di dunia, dan sekarang Dia dimuliakan dalam kekekalan.

Tanpa keraguan, Tuhan kita adalah Allah yang merasakan. Dan saya harus bertanya-tanya: bagaimanakah Yesus dapat tidak terluka oleh ketidakpercayaan yang amat sangat yang melanda di seluruh dunia saat ini?

Pikirkanlah ketidakpercayaan para murid yang sedang berada di perahu bersama Yesus, ketika gelombang bergelora dan mulai membanjiri perahu mereka. Betapa terlukanya hati Yesus ketika mereka menunjukan tuduhan, dengan kata-kata ketidak-percayaan mereka terhadapNya: "…Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38).

Bagaimanakah dengan saat-saat ketika Yesus secara ajaib member makan 5.000 orang dan kemudian 4.000 orang dengan hanya beberapa ikan dan roti? Dua kali Da mengadakan mukjizat-makanan ini, memberi makan sebanyak 9.000 orang, tidak termasuk perempuan dan anak-anak pada kedua kejadian tersebut. Walaupun mereka telah mengalami karya-karya yang luar biasa ini, murid-murid Yesus sendiri masih terperosok dalam ketidakpercayaan. Setelah satu mujizat dalam pemberian makan tersebut terjadi, Kristus berbicara kepada mereka tentang ragi orang Farisi, dan "…mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti." (8:16).

Yesus pasti terkejut mendengar kata-kata mereka. Dia baru saja secara ajaib melipatgandakan roti untuk orang banyak, di depan mata murid-muridNya sendiri. Jelas Dia terluka seperti terlihat dalam jawabanNya kepada mereka,…"Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?"…"Masihkah kamu belum mengerti?" (8:17-19, 21).

Apakah Yesus harus menghapus air mataNya pada saat itu? Apakah Dia menangis karena ketidakpercayaan mereka ketika mereka baru saja melihat Dia melakukan hal yang mustahil? Apakah Dia menangis oleh sebab Dia menyadari bahwa, walaupun keajaiban yang dilakukanNya sebagai akibat dari cintaNya itu telah dinyatakan, mereka masih tetap tidak percaya kepadaNya?

Apakah yang terjadi setelah Kebangkitan Yesus, ketika Yesus muncul di tengah-tengah dua orang murid di sepanjang jalan menuju Emaus? Ingatlah bagaimana mereka kecewanya pada saat itu, ketika mereka masih belum menyadari siapa yang sedang berjalan bersama mereka? Yesus bertanya apakah yang sedang mengganggu mereka dan mereka pun menjawab: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"…

Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.…Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,…dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." (Lukas 24:18, 21, 23-24).

Singkatnya, ketika para murid tidak menemukan Yesus di dalam kuburan, mereka tidak lagi percaya. Dan mereka menolak kesaksian dari perempuan-perempuan yang telah melihat malaikat yang telah memberikan laporan tentang KebangkitanNya.

Betapa terlukanya hati Yesus! Bahkan gereja pada masa hidupNya sendiri tidak percaya pada kebangkitanNya. Pada saat itu, di jalanan menuju Emaus bersama dua orang murid yang tidak percaya, Yesus melontarkan teguran ini:…"Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" (24:25-26).

PengikutNya sendiri bahkan tidak ingat dan tidak percaya dengan kata-kata yang Dia nubuatkan sebelumnya kepada mereka tentang kematianNya, penguburanNya dan kebangkitanNya. Kita melihat reaksi yang sama yang telah melukai hati Kristus ketika Dia menampakkan diri kepada seluruh kelompok muridNya: “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.” (Markus 16:14). Kata "mencela" di sini berarti menegur.

Beberapa pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan kita yang lemah-lembut dan penuh kasih sayang berbicara begitu kuatnya kepada murid-muridNya. Namun kitab Injil memberikan keterangan yang sangat jelas: Kristus sangat terpengaruh oleh ketidakpercayaan mereka. Orang-orang ini adalah teman-teman terdekatNya, berada dalam lingkaranNya, yang dipilihNya sendiri untuk melayani sebagai tiang utama gerejaNya. Namun ternyata, ketika Yesus memasuki ruang atas, Dia mendengar mereka berbicara seolah-olah tidak ada kebangkitan, tidak ada Kristus yang hidup - dan kekerasan hati mereka menyebabkan Dia mengeluarkan air mata.

Luka terdalam biasanya berasal dari kalangan kita sendiri: orang-orang terdekat kita, mereka yang paling intim dengan hati kita, teman-teman yang kita percayai.

Ketika saya memikirkan mereka yang mempromosikan "Da Vinci Code (Kode Da Vinci)" dan "The Judas Gospel (Injil Yudas)"…yang mencoba untuk menyediakan hukum Allah di luar dari kepercayaan kita…yang mengejek dan mengutuk Kristus…Saya menyadari tidak satu pun yang bisa melukai Tuhan dan Juruselamat kita. Orang-orang fasik yang tidak percaya dan keras hatinya memang diduga keberadaannya. Yesus sendiri berkata, "anak-anak Iblis melakukan apa yang ayah mereka beritahukan kepada mereka supaya mereka melakukannya." Tindakan mereka merupakan bukti bahwa mereka mendapatkan petunjuk dari neraka. Saya berterima kasih kepada Tuhan untuk setiap pembela iman yang dengan tenang mengambil pena untuk membongkar kebohongan-kebohongan Setan.

Ini adalah ketidakpercayaan dari orang-orang percaya yang acuh tak acuh yang pergi ke gereja namun yang melukai Tuhan kita. Betapa sakitnya Dia melihat umatNya memuji Dia, bersaksi tentang kebaikan dan kuasaNya, berkhotbah yang membangkitkan iman - namun Alah tahu bahwa itu hanyalah ucapan manis di bibir saja. Dalam masa krisis, banyak orang-orang seperti ini jatuh di luar iman, mereka berpikir Allah tidak peduli lagi.

Namun mereka bukanlah orang-orang yang melukai hati Yesus yang paling dalam. LukaNya yang terdalam ditimbulkan oleh teman-temanNya yang terdekat dan terintim. Kita tahu dari Alkitab bahwa Allah tidak membedakan orang, berarti Dia tidak menunjukkan pilih kasih dalam hal keselamatan, semua orang diselamatkan hanya oleh iman. Namun Kristus memang memiliki lingkaran teman-teman dekat, orang-orang yang sangat dipercaya. Pada kenyataannya, kita melihat adanya persahabatan manusia dengan Allah dalam kedua kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: ketika Tuhan memanggil Abraham sebagai "teman" Nya…ketika Musa dipilih untuk berbicara dengan Tuhan muka dengan muka…dan demikian dalam seluruh Injil.

Siapakah mereka yang berada dalam lingkaran Yesus? Para penulis Injil berulang kali berkata bahwa lingkaran Kristus itu terdiri dari Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mereka inilah satu-satunya yang dibawa bersama Yesus ketika Dia membangkitkan seorang gadis muda dari kematian. Mereka jugalah yang bersama Kristus pada saat dimuliakan di atas gunung. Dan ketiga murid inilah yang terakhir bersama Yesus di taman Getsemani, ketika Dia meminta mereka untuk berjaga-jaga dan berdoa. Jelaslah, mereka adalah lingkaran dalam dari teman-teman yang terdekat dengan Tuhan.

Demikian pula di Betania, Yesus memiliki lingkaran yang lebih intim. Yang satu ini terdiri dari Marta, Maria dan saudara mereka, Lazarus. Saudara sekandung ini melayani Yesus ketika Dia menyepi dari keramaian yang menekan, dengan Martha yang memasak makanan, Maria yang setia berdevosi, dan Lazarus seorang teman Yesus bisa berbicara dari hati ke hati. Injil Yohanes menyatakan dengan jelas, "Yesus memang mengasihi Marta, dan kakaknya, dan Lazarus" (Yohanes 11:05).

Inilah rumah di mana Yesus dipercaya, di mana Dia bisa duduk bersandaran dan bersantai, di mana Dia bisa sepenuhnya beristirahat. Ketiga bersaudara itu seperti keluarga bagiNya, dan kisah mereka merupakan kisah yang sudah tak asing lagi. Lazarus sedang menderita sakit parah, dan kedua saudari itu mengirimkan pesan penting kepada Yesus: "…Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit" Tetapi Kristus menunggu sampai Lazarus meninggal sebelum Dia pergi kepada mereka. Kenapa? "…Ia berkata: penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." (Yohanes 11:3-4).

Kita tahu bahwa Yesus bisa saja berbicara sepatah kata saja dan Lazarus akan disembuhkan. Demikian juga, Tuhan bisa saja pergi ke Lazarus yang terbaring di tempat tidurnya dan menyembuhkannya sana. Sebaliknya, Kristus berkata, "tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya." (11:15).

Percaya untuk penyembuhan orang sakit adalah suatu perkara, namun ada suatu perkara lain lagi untuk percaya bahwa orang mati dapat dihidupkan kembali. Dalam kisah ini, Yesus sedang menyiapkan kesempatan bagi lingkaran teman-temanNya untuk percaya terhadap apa yang sesungguhnya mustahil. Dia mengatakan kepada Marta dan Maria, yang pada intinya, "Aku senang bahwa Aku tidak ada di sana ketika semuanya tampaknya buruk. Dan Aku senang bahwa Aku tidak bertindak lebih cepat. Aku telah membiarkan keadaan ini melampaui semua kemungkinan, semua harapan manusia, karena Aku ingin kalian melihat kuasa kebangkitanKu.”

Kejadian ini tidaklah semata membicarakan tentang kematian Lazarus namun tentang kematian Kristus sendiri juga. Pikirkanlah tentang hal ini: ketika tiba saatnya bagi Yesus untuk menghadapi salib, akan pernahkah pengikutNya percaya bahwa Dia dapat dibangkitkan? Hanya ada satu cara untuk mereka percaya. Dan bagi Yesus – itu berada di Betania, dengan teman-teman tercintaNya - untuk memasuki keadaan yang paling putus asa dimana rencana tujuanNya menjadi nyata bekerja untuk menghadapi kemustahilan manusia.

Saya yakin bahwa Yesus tidak akan mempercayakan pengalaman ini kepada siapapun di luar lingkaran dalamNya. Perkara demikian yang dipersiapkan hanya untuk orang-orang yang akrab dengan Dia, yakni mereka yang tidak berpikir seperti dunia ini berpikir. Seperti anda lihat, hal ini terjadi di antara teman-temanNya - orang-orang yang tahu isi hati Kristus dan percaya sepenuhnya kepada Dia - bahwa Dia dapat menghasilkan iman yang tidak dapat tergoyahkan.

Faktanya adalah, Yesus tahu semua kesulitan di masa depan yang bakal terjadi dalam kehidupan orang-orang yang tersayang ini. Dia tahu setiap penyakit dan tragedi yang akan mereka hadapi. Dia juga tahu tentang kehancuran yang akan datang atas Yerusalem. Dan Dia ingin melihat iman mereka saat ini yakni yang percaya akan pemeliharaanNya, tidak peduli bencana apapun yang akan mereka hadapi. Dia tahu bahwa inilah satu-satunya cara yang memungkinkan mereka dapat melalui apapun yang akan terjadi di masa depan.

Ketika Yesus tiba, kata-kata Marta yang pertama kepadaNya adalah, " Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." Pada pihak Martha, kata-kata ini mungkin terdengar penuh iman. Tetapi ketika Yesus menjawab, "Saudaramu akan bangkit," dan Marta mengungkapkan kepadaNya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." Dengan kata lain: "Ini semua sudah berakhir saat ini, Yesus. Kau terlambat."

Yesus menjawab: "Akulah kebangkitan dan hidup: barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,: dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini? " (11:21-22, 23-24, 25-26).

Kristus sedang memberitahukan kepadanya, "Tidak, Marta, Akulah kebangkitan dan hidup. Percayalah padaKu, dan kamu tidak akan pernah mati." Sekali lagi, Dia tidak hanya berbicara tentang Lazarus, tetapi tentang kematian dan kebangkitanNya sendiri. BagiNya, kebangkitan Lazarus merupakan suatu masalah yang sudah terselesaikan: "Marta, tidakkah kamu percaya bahwa Aku dapat pergi bahkan ke dalam kubur dan melakukan hal yang mustahil bagi anda dan Maria, dalam seluruh hari-hari anda?"

Pada saat itu, Marta "berjalan pergi" (11:28). Dan itulah yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita dalam situasi seperti itu. Kita tidak menyelesaikan masalah kita dengan Yesus, mencari Dia dengan iman, "Oh, Tuhan, tolonglah atas ketidakpercayaan saya." Sebaliknya, kita hanya berjalan pergi, kembali pada keraguan dan ketakutan kita. Dan hal itu melukai hati Tuhan. Terbuktilah, Marta tidak mengerti bahwa Yesus ingin lebih daripada sekedar iman pada saat krisis yang satu ini. Kristus ingin dia menghentikan semua kecenderungan untuk tidak percaya, dan memulai untuk percaya seumur hidupnya dalam melalui setiap percobaan.

Kemudian Yesus memanggil Maria. "Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kakiNya, dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." Bahkan Maria yang taat pun mengatakan hal yang sama kepada Yesus seperti yang telah dilakukan oleh adiknya. Apa reaksiNya? "…masygullah hatiNya. Ia sangat terharu…” (11: 32, 33).

Ketidakpercayaan Marta seharusnya telah cukup melukai hatiNya. Saya yakin Yesus mengharapkan lebih dari Maria. Tetapi saat Dia melihat Maria menangis menyedihkan, tanpa harapan, Dia pun "masygul" - sebuah kata yang berarti “mengerang dalam marah yang benar” seperti juga dengan kata "terharu" yang juga berarti "terganggu - tidak senang."

Saat itu Yesus berkata, "Di mana dia kamu baringkan?" (11:34). Pada saat Marta mendengar Dia memerintahkan agar batu itu digulingkan, dia pun menolakNya, "Tapi, Tuhan, semua yang Engkau dapatkan hanyalah bau busuk semata. Saudara kami telah mati selama empat hari.” Hal ini menandakan ketidakpercayaan yang berlebihan. Pada saat itulah kita membaca: "Yesus menangis" (11:35).

Pasti ada seribu definisi yang menjelaskan alasan mengapa Yesus menangis. Tapi bagi saya, bagian ini telah menjadi sesuatu yang bersifat pribadi. Saat saya merenungkan hal ini, saya pun berdoa, "Tuhan, saya tidak ingin tahu apakah yang dikatakan oleh beberapa doktrin pengajaran. Saya ingin merasakan seperti apa yang Engkau rasakan."

Yesus berkata, menangislah dengan orang-orang yang menangis, dan mungkin Dia telah menangis akibat kesedihan yang terjadi pada hari itu. Tetapi kenyataannya adalah, Yesus sudah tahu bahwa Lazarus akan segera berjalan keluar dari kubur. Jadi air mataNya haruslah diakibatkan oleh sesuatu yang lainnya juga.

Kitab Ibrani mengatakan kepada kita, "Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa…mereka yang tidak taat/percaya? "(Ibrani 3:17, 18, huruf miring adalah catatan pribadi). Saat saya kembali ke adegan di kuburan Lazarus, saya mulai merasakan sesuatu dari hati Yesus yang terluka. Pikirkanlah tentang hal ini: rupanya tak seorang pun di seluruh bumi yang percaya kepada Kristus sepenuhnya pada saat itu. Orang-orang Yahudi tidak menerimaNya. Bahkan tiang-tiang utama dari gerejaNya pun tidak percaya kepadaNya. Sekarang lingkaran dalam dari teman-temanNya pun tidak menunjukkan beriman. Yesus tahu bahwa Dia akan segera meninggalkan bumi, sehingga apakah yang seharusnya Dia rasakan pada saat itu?

Sekarang saya harus bertanya kepada anda: adakah hal-hal yang berbeda pada hari ini? Siapakah di dunia ini yang percaya bahwa Yesus adalah Allah atas kemustahilan? Ketika Anak Manusia memandang ke bumi, adakah Dia menemukan iman?

Baru-baru ini saya mengikuti acara "jalan doa," dengan mengambil perhatian tentang kesehatan dari beberapa anggota keluarga. Ketika saya berpikir tentang ayat-ayat Alkitab ini, tiba-tiba saya menemukan diri saya berdoa sambil menangis: "Tuhan, mereka membuat Engkau menangis. Apakah saya juga membuat Engkau menangis oleh karena ketidakpercayaan saya? Saya memiliki waktu yang berharga denganMu, Yesus, selama lebih dari lima puluh tahun. Saya mencintaimu, dan saya tahu bahwa Engkau mencintaiku. Tetapi belakangan ini saya sudah memendam beberapa keraguan. Saya bertanya-tanya mengapa beberapa doa belum dijawab."

Sejak itu, saya telah mendengar suaraNya yang manis, berkata, "Aku akan selalu mencintaimu, David. Aku akan menjagamu agar tak terjatuh, dan Aku akan setia menghantarkanmu dengan tak bercacat ke hadapan Bapa. Tetapi, ya, Aku terluka setiap kali kamu tidakpercaya dan imanmu menjadi bimbang."

Olehkarena itu, orang-orang kudus yang tercinta: Apakah anda sedang berada di tengah-tengah percobaan yang bertubi-tubi saat ini? Apakah anda telah berdoa, menangis dan memohon bantuan, namun semuanya terlihat tanpa harapan? Mungkin situasi anda telah di luar batas kesanggupan manusia, dan anda berpikir, "Sudah terlambat."

Saya memberitahukan anda, anda telah dipercayakan dengan krisis anda. Allah bisa saja memindahkannya setiap saat, tetapi hal ini adalah kesempatan bagiNya untuk berkerja di dalammu suatu iman yang teguh, yang anda butuhkan. Dia sedang mencari kepercayaan dalam dirimu bukan hanya untuk apa yang sedang anda hadapi sekarang, tetapi untuk setiap masalah kemustahilan dari saat ini sampai anda kembali pulang untuk hidup bersamaNya. Jangan salah: Dia bersukacita atas anda. Namun Dia juga cukup mencintai anda untuk membangun suatu iman di dalam diri anda yang akan anda lihat bahwa anda akan melalui semuanya itu.

Berdoalah bersama saya: "Maafkan saya, Tuhan, untuk membuat Engkau menangis. Tolonglah atas ketidakpercayaan saya sekarang ini." Kemudian buatlah ayat ini menjadi milik anda sendiri: "…tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." (Ibrani 11:6).

Download PDF