Allah Tidak Akan Melupakan Anda | World Challenge

Allah Tidak Akan Melupakan Anda

David WilkersonAugust 1, 1979

Ada sebuah pesan yang menyala-nyala di dalam tulang-tulangku. Ini adalah pesan untuk setiap umat Kristiani yang perlu didengar, terutama pada masa kini dimana godaan yang begitu kuat menguasai umat manusia dan sakit penyakit yang menyiksa.

Pesan dari Tuhan yang saya sampaikan kepada anda ini sederhana saja: Allah tidak akan melupakan anda! Dia tahu persis di mana anda berada, apa yang akan anda lalui saat ini, dan Dia sedang memantau setiap langkah anda di sepanjang perjalanan ini. Tetapi kita ini hanyalah seperti anak-anak Israel yang meragukan pemeliharaan Allah bagi mereka pada setiap harinya, meskipun para nabi telah dikirim untuk memberitakan janji-janji-Nya yang indah dari Surga.

Umat ​​Allah sedang berada di dalam kegelapan, kelaparan dan kehausan, dan sedang berdoa untuk mendapatkan pembebasan dan kenyamanan. Allah telah membotolkan setiap tetesan air mata, dan Dia mendengar teriakan mereka serta menjawab, "Aku akan menjaga kamu ... kamu tidak akan lapar dan haus lagi ... Aku akan menaruh belas kasihan padamu dan menuntunmu ke mata air kehidupan ... sebab Tuhan akan menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas ... " (Yesaya 49). Apakah Israel bersukacita atas janji-janji yang dikirim langsung dari takhta Allah? Apakah umat Allah berhenti dari keresahan mereka dan mulai percaya kepada Tuhan untuk melewati semuanya ini? Apakah orang-orang yang terluka dan bingung tersebut kemudian menjadi percaya pada sebuah kata yang terdapat di dalam janji-janji itu? Tidak!

"Sion berkata, Tuhan telah meninggalkan aku, dan Tuhanku telah melupakan aku" (Yesaya 49:14). Mereka bukanlah umat yang tidak tahan uji atau anak-anak iblis. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang "yang mencari Tuhan ... anak-anak Abraham ... orang-orang yang tahu akan kebenaran ... di dalam hatinya terdapat hukum Allah ..." Sampai seberapa banyak usaha lagi yang harus dilakukan oleh Allah untuk memberitahukan Firman-Nya kepada orang-orang yang keras kepala ini, anak-anak yang tidak percaya? Allah sangat khawatir karena mereka tidak bertindak sebagaimana semestinya atau tidak mendengarkan janji-janji-Nya. Anda sendiri dapat merasakan betapa tidak sabarnya Tuhan dalam menegur ketidakpercayaan mereka. "Akulah, Akulah yang menghibur kamu. Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia... sehingga engkau melupakan TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, sehingga engkau terus gentar sepanjang hari terhadap kepanasan amarah orang penganiaya, apabila ia bersiap-siap memusnahkan? ... " (Yesaya 51: 12-13).

Apakah telinga anda akrab mendengar hal itu? Sebagai anak-anak Allah Yang Kudus yang hidup pada zaman ini, yang memiliki janji mulia dari Roh Kudus yang memberikan kenyamanan; namun kita mengalami ketakutan terhadap penindas kita pada setiap harinya. Kita tahu apa yang telah Tuhan janjikan untuk kita: bimbingan, damai sejahtera, tempat penampungan terhadap badai yang menyerang, sebuah jalan keluar di mana tampaknya ada tidak ada lagi jalannya, pasokan untuk setiap kebutuhan, kesembuhan untuk setiap penyakit. Apakah kita percaya terhadap semuanya itu? Apakah kita hanya menempatkan janji-janji ini di luar pikiran kita dan akhir melayang lenyap, karena khawatir dan keresahan dan berusaha menanganinya dengan usaha kita sendiri? Saya menjadi begitu takut! Dan kita pun semuanya dalam keadaan yang sama. Kita masuk ke dalam sebuah tempat yang ketat; dimana kita merasa kesepian dan depresi; kita pun jatuh ke dalam pencobaan dan menyerah pada hawa nafsu; kita membuat kesalahan yang tragis dan hidup dalam rasa bersalah dan terror yang berkesinambungan; dan untuk melewati semuanya itu, kita malah memilih untuk melupakan semua yang telah dijanjikan Allah untuk kita. Kita lupa bahwa kita melayani Allah yang meletakkan dasar-dasar bumi ini. Kita lupa bahwa Bapa kita memiliki semua kekuasaan, dan bahwa segala sesuatu yang ada telah diciptakan oleh-Nya. Kita hanya melihat masalah kita. Ketakutan kita telah menutupi visi kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Kita menjadi takut; kita panik; kita bertanya-tanya; kita pun meragukannya.

Kita lupa pada saat kita membutuhkan sesuatu bahwa Allah memiliki kita dan kita pun berada di dalam telapak tangan-Nya. Sebaliknya, seperti anak-anak Israel, kita takut bahwa kita akan dilenyapkan dan dihancurkan oleh musuh. Betapa sulitnya bagi Bapa kita yang penuh kasih itu untuk memahami mengapa kita tidak mau percaya kepada-Nya ketika kita sedang putus asa dan dalam keadaan membutuhkan sesuatu. Allah harus berpikir dalam diri-Nya, "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku ... " (Yesaya 49: 15-16).

Berulangkali Allah datang kepada bangsa Israel dan memohon keyakinan dan kepercayaan mereka pada-Nya pada saat mereka dalam keadaan krisis. "Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan," (Yesaya 30:15). Allah bersabda kepada mereka, "Kamu tidak bertanya kepada-Ku, berdoa untuk memohon bantuan dan bimbingan. Kamu tidak menunggu-Ku untuk membantu. Kamu tidak kembali kepada-Ku untuk memohon bantuan dan kekuatan ketika kamu sungguh-sungguh membutuhkannya. Kamu tidak menerima nasihat-Ku, Kamu tidak menunggu-Ku untuk bekerja bagimu, kamu tidak menunggu sabda yang menenangkan hati dan yang berbisik, "Inilah jalannya, jejakkanlah kakimu di dalamnya. Kamu tidak percaya bahwa lengan-Ku yang kuat dapat membebaskan kamu. Kamu tidak memanggil nama-Ku untuk beristirahat dalam telapak tangan-Ku. Sesungguhnya tidak. Kamu berusaha menangani masalahmu dengan kekuatanmu sendiri; kamu mengandalkan orang lain; kamu menaruh kepercayaanmu di dalam pikiranmu sendiri. Kamu seperti sekam dan dibakar oleh api dirimu sendiri."

Akhirnya Allah tampaknya seperti berteriak terhadap Israel, "Carilah di dalam kitab TUHAN, dan bacalah: Satupun dari semua makhluk itu tidak ada yang ketinggalan dan yang satu tidak kehilangan yang lain: sebab begitulah perintah yang keluar dari mulut TUHAN ... Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu! ... kedukaan dan keluh kesah akan menjauh" (Yesaya 34:16, 35:3-10).

Bagi saya, sepertinya kitab Perjanjian Baru pun menggemakan ketidaksenangan Allah terhadap ketidakpercayaan: "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya" (Yakobus 1: 6-8).

Yesus khawatir bahwa ketika Dia kembali ke bumi ini, Dia tidak akan menemukan iman apapun. Dia baru saja memberikan pesan tentang betapa pastinya Allah menjawab doa. Dia baru saja berjanji bahwa Bapa Surgawi akan dengan segera "membalas dan menjawab bagi orang pilihan-Nya sendiri, yang berseru kepada-Nya siang dan malam." Pastilah dengan berat hati Yesus berkata sebagai berikut: Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:7-8).

Mungkinkah kita terus menyakiti diri kita sendiri — terus menerus berbuat dosa — terus menerus hidup di dalam kekalahan dan kegagalan — hanya karena kita tidak sungguh-sungguh lagi percaya bahwa Allah menjawab doa-doa kita?

Apakah kita bersalah sebagaimana halnya orang Israel yang berpikir bahwa Allah telah meninggalkan kita dan menyerahkannya pada perangkat kita sendiri dalam mencari-cari jawaban untuk diri kita sendiri? Apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan meng-amin-kannya ketika Ia berkata bahwa Allah akan bertindak tepat pada waktunya, dalam menjawab doa kita dengan iman? Yesus menunjukkan bahwa sebagian besar dari kita, baik yang dipanggil maupun yang dipilih, tidak akan percaya kepada-Nya saat Dia kembali. Beberapa umat Allah telah kehilangan kepercayaannya di dalam Dia. Mereka tidak percaya, di dalam hatinya yang terdalam, bahwa doa mereka dapat membuat perbedaan. Mereka bertindak seolah-olah mereka semua percaya pada diri mereka sendiri.

Daripada menyerahkannya kepada Tuhan dengan penuh keyakinan yang menenangkan dan berpasrah pada janji-janji-Nya, kita malah berusaha keras untuk mencari solusi untuk kita sendiri. Dan ketika cara kita akhirnya menampar wajah kita sendiri, maka kita pun menjadi marah terhadap Allah.

Seorang janda muda mengatakan kepada saya, "Saya hampir pingsan ketika saya mabuk berat pada malam itu. Saya telah berdoa untuk suami saya selama satu tahun penuh agar ia kembali, tetapi bukannya ia kembali kepada saya, dia malahan telah mengambil wanita lain. Allah tidak menjawab doa saya, jadi saya pikir saya akan pergi keluar rumah dan bermabuk-mabukan untuk menunjukkan kepada-Nya betapa marahnya saya. "Sungguh kasihan! Wanita ini telah bersiap untuk tidak mempercayai Allah lagi karena Dia tidak akan menjawab doanya, dengan cara dan dalam jenjang waktu yang dikehendakinya sendiri. Seperti kebanyakan orang lainnya yang meminta kepada Allah hanya untuk kesenangan dirinya sendiri, dia malahan hanya ingin satu hal: bebas dari rasa kesepian dan terlepas dari dorongan seksual-nya. Dia tidak menginginkan lainnya selain Yesus, tidak pula ingin lebih suci dan lebih berkarakter Kristiani. Tidak begitu! Sebaliknya dia hanya ingin seorang pria berada di sisinya. Saya langsung tahu bahwa Allah tidak dapat menjawab doa wanita itu. Dia tidak siap untuk menerima suaminya kembali. Dia akan terus begitu sampai menjadi cacat emosional, dan dia akan terbuang untuk kedua kalinya. Akhirnya, apa yang masih tersisa darinya adalah kegagalan lainnya, dan keputusasaannya akan semakin parah. Allah tidak meninggalkan dirinya; Dia malahan menjadi sungguh-sungguh berbelas kasihan padanya. Dia menyelamatkan hidupnya, tapi dia sendiri tidak bisa melihatnya.

Jujurlah sekarang! Apakah iman anda menjadi lemah akhir-akhir ini? Apakah anda hampir menyerah pada hal-hal tertentu yang telah didoakan begitu banyaknya? Apakah anda menjadi kelelahan karena menunggu? Apakah anda menyerah dan mengundurkan diri seolah-olah mengatakan, "Saya hanya tidak bisa menerobos masuk semua halangan ini. Saya tidak tahu apa yang salah dengan saya dan mengapa doa saya tidak dijawab. Nyatanya Allah telah mengatakan tidak kepada saya."

Bagaimana dengan semua orang yang kesepian di dunia ini yang terkoyak oleh kesendirian mereka? Kaum pemuda dan pemudi yang menghabiskan waktu bulanan bahkan tahunan yang berdoa untuk pasangan yang dikasihi? Lainnya akan puas jika Allah akan menjawab doa dan memberikan mereka hanya sebagai teman. Mereka menangis di malam hari. Telepon menjadi hidup mereka, dan ketika hal-hal yang tak tertahankan itu muncul, mereka pun menelepon seseorang — siapa saja — hanya untuk berbicara untuk sementara waktu. Apakah Allah masih menjawab doa-doa mereka? Anda tahu — orang-orang di jaman dulu di mana gadis-gadis Kristiani masih berdoa untuk mendapatkan suami Kristiani — demikian pula para pemuda berdoa untuk mendapatkan istri Kristiani? Dapatkah Allah secara ajaib mengirimkan seseorang ke dalam kehidupan teman-teman, dan rekan-rekan yang kesepian sebagai jawaban doa dan iman mereka? Saya masih harus percaya bahwa Allah bekerja dengan cara seperti itu. Namun saya tahu pasti, setelah mewawancarai ratusan orang yang kesepian, dimana beberapa orang dari mereka benar-benar percaya akan janji-janji Allah.

Tunjukkanlah kepada saya seorang yang kesepian, anak Allah yang kesakitan yang menempatkan karakter dan pertumbuhan rohani melebihi semua kebutuhan lainnya, dan saya akan menunjukkan seseorang yang pasti yang akan memenuhi kebutuhannya. Daripada berdoa dengan iman, dan bukannya membaca Firman Tuhan dan tumbuh dalam kekuatan, bukannya menyerahkan masa depan mereka untuk dijagai-Nya — orang-orang yang paling kesepian ini justru menonton TV, membaca majalah sampah, dan bertumbuh secara rohani yang kusam. Iman mereka lemah karena mereka lumpuh rohani. Mereka berdoa hanya sebentar dan terburu-buru. Mereka berkubang dalam mengasihani diri sendiri dan mengecam diri mereka sendiri. Mereka terhambat dan tidak percaya, siap berpikir bahwa Allah telah memisahkan mereka dari kerumunan orang banyak hanya untuk dirawat dengan cara yang salah. Tuhan tidak dapat menjawab doa-doa mereka karena mereka tidak siap untuk persahabatan dan cinta yang sejati. Mereka hanya akan mengacaukannya dalam waktu singkat sebagai akibat ketidakpercayaan mereka terhadap Allah yang selalu mengarah kepada ketidakstabilan dalam berhubungan dengan manusia. Saya mengatakan kepada semua orang yang kesepian: Dapatkanlah kembali kamar doa rahasiamu! Kembalilah kepada hal yang sederhana, beriman seperti anak kecil! Mulailah merindukan Yesus — melebihi untuk teman atau pasangan anda. Allah akan memenuhinya, sesuai dengan Firman-Nya sendiri, memenuhi setiap kebutuhan anda.

Hampir di mana-pun saya pergi saat ini, saya mendengar para umat Kristiani, bahkan para pendeta/pemimpin rohani mengatakan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hidup mereka. Seorang teman pendeta menyimpulkannya seperti ini, "David, saya mulai kelaparan terhadap Tuhan. Saya mendapatkan diri saya patah semangat; Saya menangis dan menangis selama berjam-jam. Saya merasa seperti sesuatu dalam diri saya yakni pencarian suatu ekspresi. Seperti proses kelahiran yang akan berlangsung. Saya menginginkan Allah lebih lagi dan lebih menikmati hidup ini. Saya ingin menjadi kudus. Saya ingin mengenal Allah dan melewati hidup ini bersama-Nya. Saya berdoa agar apa yang saya rasakan tidak akan menghilang tetapi akan terus tumbuh sampai mengalami semuanya. Tapi, sedihnya, dalam beberapa minggu saya kehilangan semangat saya. Saya kembali dalam ketakutan dan kekeringan yang lama. Saya menjadi begitu dekat, tetapi saya tidak pernah merasakan sedalam-dalamnya. Lalu saya berkata pada diri saya sendiri — Apakah yang telah terjadi?"

Apakah hal itu menggambarkan apa yang sedang anda alami? Apakah anda merasa seperti anda berada di luar pintu gerbang; begitu dekat, ingin sekali menerobos masuk ke dalam kehidupan yang penuh sukacita, beriman, doa-doa yang dijawab, dan penuh kemenangan? Apakah ada sesuatu yang di dalam diri anda, terus mengutuk anda, karena anda tidak pernah melakukan sesuatu yang cukup menyenangkan Allah? Dalam banyak kesempatan, apakah anda berpikir untuk diri anda sendiri, "Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Aku tidak menyelesaikan apa pun. Aku tidak bertumbuh. Aku tidak menunjukkan kemajuan yang nyata?"

Saya berpendapat bahwa dalam diri kita semua, tepat di bawah permukaan hati nurani kita, terdapat pikiran yang mengerikan, "Oh, Tuhan, bantulah saya atau saya akan terbuang." Kita tidak pernah mengatakannya, tetapi kita memikirkannya. "Ya Allah, saya sangat lemah, sangat rentan terhadap dosa yang membuntuti saya, sangat melalaikan kemenangan atas godaan, sangat bingung dengan doa dan cara mengatasi setan — Saya takut kalau-kalau saya akan melakukan sesuatu yang bodoh dan merusak segalanya."

Apakah arti semuanya ini ketika doa-doa tidak terjawab? Ketika kesakitan menjadi berlarut-larut? Ketika penderitaan diizinkan untuk terus berlanjut, dan kelihatannya Allah tidak melakukan apa-pun dalam menanggapi iman kita? Seringkali terjadi bahwa Allah lebih mengasihi kita pada saat itu dibanding waktu-waktu sebelumnya. Firman-Nya mengatakan, "Siapa yang mengasihi Allah, Dia akan mengajarnya." Sebuah pukulan dengan cinta kasih menjadi lebih utama daripada setiap tindakan iman, bahkan melebihi setiap doa, dan setiap janji. Apa yang saya lihat sebagai hal yang menyakiti hati saya telah menjadi sebuah bentuk cinta kasih-Nya kepada saya. Ini telah menjadi sebuah tangan lembut-Nya yang memukul saya agar saya keluar dari kekerasan kepala dan kebanggaan saya. Allah bisa saja sedang berkata kepada saya, "Aku telah berjanji untuk memenuhi setiap kebutuhanmu. Aku telah mengatakannya bahwa Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta daripada-Ku dalam iman. Kamu hanya butuh menyerahkan diri untuk diajar; ini adalah satu-satunya cara-Ku untuk membuat kamu memasuki pengalaman dalam bahtera cinta kasih. Kamu dapat meminta untuk dibebaskan dari pengalaman ini, tetapi itu hanya akan menunda pertumbuhan rohanimu. Melalui pengalaman penderitaan ini, kamu akan belajar mengenai ketaatan, saat kamu menyerahkan diri."

Kita beriman dalam iman kita. Kita lebih menekankan pada kekuatan doa kita daripada kita berusaha untuk mendapatkan kuasa-Nya dalam diri kita. Kita ingin mencari tahu mengenai diri Allah sehingga kita bisa membaca-Nya seperti buku bacaan. Kita tidak ingin terkejut atau bingung. Dan ketika terjadi hal-hal yang bertentangan dengan konsep kita tentang Allah, kita katakan, "Itu tidak mungkin Allah, itu bukan cara-Nya Dia bekerja."

Kita sangat sibuk bekerja untuk Allah, kita lupa bahwa Dia mencoba bekerja untuk kita. Itulah hidup ini; Allah bekerja untuk kita, mencoba untuk membentuk kembali diri kita menjadi bejana kemuliaan. Kita sangat sibuk berdoa untuk mengubah hal-hal yang ada, kita memiliki sedikit waktu untuk memberikan kesempatan agar doalah yang sesungguhnya yang mengubah kita. Allah tidak pernah menempatkan doa dan iman ke dalam tangan kita seolah-olah dua alat rahasia ini menjadi milik kelompok "ahli" yang terpilih untuk belajar membongkar sesuatu rahasia dari-Nya. Allah berkata Dia lebih bersedia untuk memberi daripada untuk menerima. Mengapa kita menggunakan doa dan iman sebagai "kunci" atau alat untuk membuka sesuatu yang belum pernah dikunci? Ini semua diberikan secara bebas. Itu sudah dicurahkan keluar. Ini adalah sebuah gudang dengan semua pintu dan jendelanya terbuka, dengan seorang Bapa yang sudah bekerja sehari-harian hanya untuk memberikan kenikmatan-Nya kepada kita. Ketika Yesus berkata, "Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu," Dia sedang berbicara tentang pintu anda, bukan pintu milik-Nya. Bukalah semua pintu anda sendiri. Anda tidak perlu kunci untuk memasuki hadirat-Nya.

Doa bukanlah untuk kepentingan Allah; melainkan untuk kepentingan kita. Iman bukanlah untuk kepentingan-Nya, melainkan untuk kepentingan kita. Allah bukanlah terdiri dari beberapa bagaian keabadian, permainan ilahi yang diperolok manusia. Dia tidaklah dikelilingi dalam teka-teki agar manusia dapat mengungkapkannya, dan seolah-olah Dia mengatakan, "Orang bijak akan mendapatkan hadiahnya."

Kita sangat tercampur-baur dalam masalah doa dan iman ini; kita telah memiliki keberanian untuk berpikir tentang Allah sebagai  "zat inti" dari pribadi kita yang memenuhi setiap keinginan kita. Kita pikir iman sebagai cara untuk menyudutkan Allah pada janji-janji-Nya. Kita pikir Allah senang dengan upaya kita untuk menagih paksa kepada-Nya dan berteriak, "Tuhan, Engkau tidak bisa menolak janji-Mu. Saya inginkan apa yang sedang mendatangi saya. Engkau terikat dengan Firman-Mu sendiri. Engkau harus melakukannya atau Firman-Mu sesungguhnya tidak benar."

Inilah sebabnya mengapa kita kehilangan makna sebenarnya dari doa dan iman. Kita melihat Allah hanya sebagai pemberi, dan kita sendiri sebagai penerima. Tetapi sesungguhnya doa dan iman adalah jalan yang menjadikan kita sebagai pemberi kepada Allah. Keduanya digunakan, bukan sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi sebagai cara untuk memberikan sesuatu kepada-Nya yakni hal-hal yang dapat menyenangkan Dia.

Apakah anda menginginkan Sebuah Janji ataukah anda menginginkan Sang Pembuat Janji? Apakah anda menginginkan doa anda dijawab atau anda menginginkan Dia yang bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita? Dapatkah anda membayangkan seorang istri yang melekat dengan suaminya hanya untuk kepentingannya sendiri agar ia dapat menerima sesuatu dari suaminya? Sang isteri menikmati semua hak istimewanya yang berasal dari suaminya itu, dan menggunakan nama suaminya dengan bebas untuk meningkatkan posisinya sendiri. Dia menikmati semua kemewahan yang telah disediakan oleh suaminya itu; dia terus-menerus menghabiskan kartu kreditnya. Namun ia menerimanya begitu saja tanpa usaha sedikitpun dari orang yang begitu mencintainya. Dia hanya memiliki sedikit waktu untuk dihabiskannya bersama suaminya; dia begitu sibuk dengan kenyamanan dan kesenangannya sendiri. Sampai berapa lamakah hal ini terjadi hingga dunia tahu bahwa dia menggunakan suaminya, bahwa dia tidak begitu tertarik dengan diri suaminya, melainkan lebih tertarik pada apa yang telah diberikan oleh sang suami kepadanya? Pengantin tercinta Kristus tidaklah demikian memperlakukan Guru kita? Kita menuntut atas penggunaan kartu kredit-Nya bagi kita, sambil menunjukkan betapa sedikitnya minat kita terhadap kasih-Nya.

Semua janji-janji yang diberikan-Nya kepada kita dimaksudkan agar kita bisa menjadi bagian di dalam Dia. Dia ingin agar cinta-kasih ilahi-Nya berada di dalam tubuh mungil kita ini.

Apakah saya percaya bahwa semua janji-janji-Nya adalah milik saya? Ya! Apakah saya masih percaya bahwa Allah menjawab doa? Ya! Apakah saya percaya bahwa Dia akan menghibur saya; memberikan semua hal yang saya butuhkan untuk bebas dan untuk dipenuhi? Ya! Tetapi semua yang Allah lakukan dalam diri saya dan untuk saya, tergantung pada satu hal: Saya harus percaya bahwa Dia mendengar ketika saya memanggil-Nya, bahwa Dia membotolkan setiap tetes air mata, bahwa Dia lebih bersedia untuk memberi daripada saya untuk menerima, bahwa Dia lebih cemas untuk menjawab setiap doa yang akan membantu saya untuk menjadi lebih seperti diri-Nya sendiri, bahwa Dia tidak akan pernah menahan sesuatu apapun yang saya butuhkan dengan lebih lama lagi daripada yang dapat saya pertahankan.

Allah tidak pernah meninggalkan saya — atau anda! Seribu kali saya nyatakan tidak! Dia sekarang ini menginginkan kita semua untuk percaya bahwa Dia bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita. Jadi berhentilah mencoba untuk mencari tahu; berhentilah khawatir; berhentilah meragukan Tuhanmu! Jawabannya akan datang! Allah tidak menutup telinga-Nya! Anda akan menuai — tepat pada waktunya — jikalau anda tidak terjatuh tak sadarkan diri!

Download PDF