Kekeringan Rohani | World Challenge

Kekeringan Rohani

David WilkersonFebruary 1, 1979

Saya berkhotbah kepada ribuan orang, namun ada saat-saatnya dimana saya merasa begitu sangat kering - begitu jauh dari kehangatan hadirat Allah. Dalam saat-saat kekeringan seperti itu, saya tidak mempunyai kerinduan yang besar untuk membaca Firman Alllah - membaca Alkitab seperti suatu kewajiban yang dilakukan oleh sebagian besar umat Kristiani. Ketika saya kering dan kosong, saya merasa seperti ada sedikit paksaan untuk berdoa. Saya tahu iman saya masih utuh, dan cintaku kepada Yesus juga tetap kuat. Tidak ada keinginan dalam diriku untuk mencicipi hal-hal duniawi. Hanya saja, saya merasa tidak bisa menyentuh Allah pada hari-hari dan minggu-minggu yang penuh kekeringan rohani itu.

Apakah anda pernah duduk di gereja dan menyaksikan orang-orang di sekitar anda mendapatkan berkat, sementara anda sendiri tidak merasakan apa-apa? Mereka menangis; mereka berdoa; mereka menyembah dengan perasaan yang luar biasa. Tapi anda tidak tergerak - sama sekali. Anda mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang salah dengan kehidupan rohani anda. Umat Kristiani di sekitar anda menceritakan kisah-kisah hebat tentang bagaimana Allah memberkati mereka dan menjawab semua doa-doa mereka. Mereka tampaknya hidup di puncak gunung pengalaman yang membahagiakan, sementara anda hanya bekerja keras untuk mengasihi Yesus, tetapi tidak merasa terbakar semangatnya untuk memenangkan dunia. Beberapa doa anda masih belum terjawab. Anda tidak berteriak atau menunjukkan emosional yang terlihat oleh orang lain. Anda tidak memiliki cerita hebat tentang beberapa keajaiban yang fantastis yang telah anda saksikan. Hal ini telah membuat anda merasa seperti orang percaya kualitas kelas dua.

Saya percaya bahwa semua orang percaya mengalami pula musim kering beberapa kali dalam kehidupan Kristiani mereka. Bahkan Yesus sendiri merasakan isolasi ini - ketika Dia berteriak keras, "Bapa, mengapakah Engkau meninggalkan Aku?"

Saya menyimpan catatan untuk hampir setiap pikiran yang saya terima dalam ibadah pribadi malam hari. Baru-baru ini, selama musim kering, saya mencatat perasaan saya. Saya merasa akan ada banyak umat Kristiani yang akan tertarik dengan catatan-catatan jujur ​​yang dibuat dalam buku harian saya.

Sebuah catatan yang penuh dengan kehati-hatian sebelum membaca pengakuan yang sangat pribadi ini: ketika saya berbicara tentang dosa dalam hidup saya sendiri - janganlah mencoba untuk menafsirkannya sebagai beberapa dosa yang mengerikan, secara terbuka memamerkan kelemahan. Bagi saya, segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa. Kami semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Saya sering jatuh ke dalam dosa keraguan yang kotor. Jadi, janganlah membaca pengakuan dosa saya sebagai sesuatu yang tidak memiliki maksud apapun. Pikirkanlah mengenai dosa anda sendiri pada saat anda membacanya.

Kadang-kadang, saya bertanya-tanya mengapa Allah tampaknya begitu jauh. Apakah Dia marah kepada saya? Apakah Dia harus menyembunyikan diriNya terhadap saya karena kegagalan dalam hidup saya? Apakah Allah sengaja menahan saya, yang diikat dengan kontrak di dalam FirmanNya yang Kudus yang menuntut Dia menutup mata-Nya terhadap saya olehkarena saya yang keras kepala ini?

Apakah dosa menyebabkan pemisahan? Apakah Allah benar-benar berkehendak, menerobos memberikan sukacita yang luar biasa dan damai kepada saya - tetapi tidak mampu melakukannya olehkarena hambatan yang telah saya bangun sebagai akibat dari dosa yang menimpa saya? Haruskah Dia menyembunyikan diri - melawan kehendak-Nya sendiri - karena Dia menghormati Firman-Nya melebihi nama-Nya? Dia menyembunyikan diri dari Israel pada masa-masa kemunduran. Haruskah Dia menyembunyikan diriNya dari saya untuk sementara, sampai saya melihat kengerian dari dosa-dosa saya dan berlari meninggalkannya?

Apakah Dia pada akhirnya kelelahan atas kegagalan saya yang terus-menerus, dan haruskah Dia menutup pintu bagi saya untuk sementara hanya karena Dia begitu mengasihi saya? Apakah kasihNya Yang Mahakuasa menghendaki Dia untuk mengisolasi saya dari hadirat-Nya sampai saya berhenti berusaha dan sepenuhnya menjadi anakNya yang berserah – kelelahan dan putus-asa?

Atau apakah semua kekeringan ini sebagai akibat kebutaan rohani saya sendiri? Apakah ini hanya akibat dari kehidupan yang berdasarkan perasaan? Apakah Dia selalu hadir setiap saat, terlepas dari kegagalan saya, menunggu saya untuk menerima pengampunan-Nya? Apakah saya merasa terisolasi hanya olehkarena saya dipermalukan dan dibebani dengan rasa bersalah? Apakah saya menghindari-Nya karena saya tahu bahwa saya tidak layak akan berkat-berkatNya? Apakah pengetahuan tentang kelemahan saya membuat saya percaya bahwa saya tidak mempunyai hak untuk mengharapkan kedekatan dan kenyamanan ini?

Saya bukanlah orang yang tidak waras; Sayapun tidak menginginkan kematian. Ini bukanlah semata-mata hanya "malam hari yang kelabu." Dan, saya tidak pernah meragukan sedikitpun mengenai keselamatan abadi saya. Apa yang meragukan saya adalah kemampuan saya untuk memahami bagaimana cara Allah bekerja. Saya selalu merasakan kekuatan cinta-Nya yang hebat. Bahkan pada masa kekeringan yang amat sangat, perasaan kasih-Nya bagi saya adalah hampir tak dapat dibendung. Tetapi itu tidaklah cukup untuk mengetahui betapa besarnya Bapa mengasihi anda. Hal ini tidaklah cukup untuk percaya akan semua janji-Nya. Hal ini tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa anda menginginkan Tuhan dengan segenap yang ada di dalam dirimu. Pastilah lebih daripada itu.

Seharusnyalah ada kedekatan yang datang dari Tuhan. Suara hati yang kecil. Sukacita untuk mendengarkan suara itu. Pengetahuan bahwa Dia tidaklah hanya menginginkan untuk tetap bersama kita, melainkan juga firman-Nya yang bahkan berada di dalam mulut anda. Hati ini seharusnyalah merasakan kehangatan-Nya. Cahaya kehadiran Allah seharusnyalah mengisi ruangan ini. Air mata yang telah tersimpan berbotol-botol seharusnya menemukan rasa pelepasan-bebas. Sukacita dari Yesus Kristus seharusnyalah menerobos semua relung pikiran. Hati ini seharusnyalah tahu bahwa Ia telah datang untuk membimbing, untuk memberikan kenyamanan, untuk menolong pada masa-masa kita membutuhkan. Seharusnyalah tidak ada lagi keraguan - tidak ada lagi pertanyaan - bahwa Allah telah memilih untuk datang dan berkomunikasi dengan hamba-Nya.

Tanpa kedekatan dari Allah, tidak akan ada perdamaian. Kekeringan dapat dihentikan hanya dengan embun dari kemuliaan-Nya. Keputus-asaan dapat dihilangkan hanya dengan jaminan Allah yang telah terbukti. Api Roh Kudus seharusnyalah memanaskan pikiran, tubuh dan jiwa.

Saya menginginkan kehadiran Allah sepenuhnya. Saya ingin mengalirkan sungai cinta-Nya. Saya menginginkan pengampunan yang lengkap terhadap semua dosa-dosa saya. Tetapi saya menginginkan lebih dari sekedar pengampunan - Saya ingin pembebasan. Apalah artinya pengampunan tanpa pembebasan? Saya tahu bahwa Tuhan telah berjanji untuk mengampuni saya tujuh kali tujuh dalam satu hari. Saya tahu bahwa kasih dan pengampunan-Nya berlaku untuk semua generasi. Saya tahu bahwa jika saya mengakui dosa-dosa saya, maka Ia adalah setia dan adil untuk mengampuni - dan menyucikan saya. Tetapi tidaklah cukup untuk hanya diampuni dan dibersihkan dari dosa-dosa masa lampau. Saya butuh pembebasan dari kuasa dosa yang begitu mudah menguasai saya. Bebas dari perbudakan semua hawa nafsu. Bebas dari belenggu segala kejahatan.

Saya tahu bahwa Firman Allah menjanjikan pembebasan. Saya tahu banyak ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang "berjalan dalam Roh," agar tidak memenuhi keinginan daging. Saya tahu tentang peringatan untuk melarikan diri semua hawa nafsu. Ayat Kitab Suci lainnya pun membanjiri pikiran saya tentang "mengatasi" persoalan dunia ini. Tetapi ada saat-saatnya dimana saya tampaknya tidak menemukan kuncinya. Bagaimanakah ayat-ayat tersebut dipraktekkan secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari saya? Apakah arti yang sebenarnya dari "berjalan dalam Roh"? Apakah itu berarti anda tidak akan pernah jatuh lagi? Seorang anak akan berkali-kali terjatuh pada saat ia belajar berjalan. Bahkan orang dewasa pun tersandung dan terjatuh pula. Dapatkah anda terjatuh - bahkan ketika anda berjalan dalam Roh – bangkit kembali dan berjalan lagi – bahkan semakin kuat untuk berjalan?

Tapi Tuhan, Engkau  seharusnya berada di sana! Jika Engkau tidak berada bersamaku pada saat saya kekeringan, tidak ada lagi harapan bagiku. Engkau harus berada di sana, memanggil saya - merindukan suara saya - kerinduan atas saya sebagaimana layaknya seorang ayah yang sayang akan anaknya. Jika tidak - hidup tidaklah memiliki arti apapun.

Dia tidak boleh menyerah terhadap saya ketika saya terluka. Ya, daging saya memang lemah. Ya, saya telah gagal di mata Dia – berulang-ulang kali. Ya, saya sudah mengatakan kepada-Nya bahwa betapa menyesalnya saya - seribu kali dalam tahun ini. Ya, saya sudah berjanji untuk meninggalkan dunia dengan segala isinya. Namun, berulang kali saya tidak bisa menepati janji saya. Ya, beberapa kali saya merasa seperti seorang pendosa yang terburuk; pembohong, rongsokan; tukang selingkuh, anak yang tak berharga. Ya, saya tidak merasa bahwa saya layak untuk pernah mengharapkan Dia mendatangi, mendekati saya ketika saya merasa begitu murah dan tidak tahu berterima kasih.

Namun, terlepas dari semuanya itu, entah bagaimana saya tahu bahwa Dia tidak jauh dari saya. Entah bagaimana, saya mendengar suara kecil yang khusus sedang  memanggil, "Ayo, anakKu - Aku menyadari semua apa yang sedang kamu alami. Aku masih mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan kamu dan tidak meninggalkan kamu. Kita akan menghadapi semuanya itu bersama-sama dengan Aku. Aku masih Bapamu - dan kamu adalah anakKu. Ayo, bukan berdasarkan pada kepentingan ataupun kebaikan, tetapi mari datanglah demi Juruselamatmu - Yesus, Tuhanmu!"

Entah bagaimana saya tahu bahwa Dia akan membawa saya keluar dari musim kering ini. Di dalam saya terdapat nyala api yang tidak akan padam. Saya tampaknya seperti tahu bahwa janji-janjiNya akan terpenuhi. Pada waktu-Nya, dengan cara-Nya sendiri, Dia akan mengubah kekeringan saya menjadi sebuah sungai cinta. Firman-Nya akan datang kepada saya. Sebuah wahyu baru mengenai kehendak-Nya. Sebuah semangat baru dan sebuah ketenangan pikiran yang lebih nyaman. Semuanya olehkarena Dia tidak pernah gagal terhadap saya sekalipun.

Ya Tuhan! Saya memiliki kelemahan dalam karakter saya. Pikiran saya kuat dalam beriman. Hati saya meleleh untukMu. Air mataku panas dengan keinginan untuk menyentuh Tuhan. Tetapi kaki saya terus saja membawa saya tersesat. Saya tidak berjalan dalam Roh seperti yang saya ​​inginkan sejujurnya. Dimanakah hari-hari kemenangan itu? Dimanakah kekuatan untuk menjaga diri tetap suci dan murni?

Tuhan, saya mencari dalam Kitab Suci, berharap untuk menemukan sebuah formula - jalan keluar dari belenggu dosa. Jika hal itu berarti bahwa saya harus terus berlutut sepanjang malam, maka saya akan melakukannya. Apakah ini berarti saya harus membaca seluruh isi Alkitab - sampai saya tersandung pada sebuah pesan yang jelas untuk pembebasan saya? Lalu saya akan membaca dan membaca! Sebagian besar klise dan solusi mudah yang ditawarkan oleh para pengkhotbah tidak dapat dipraktekkan - meskipun mereka kedengarannya saleh.

Pada saatnya terdapat kemenangan atas semua kekuatan musuh. Pada saatnya, saya dapat menyisihkan keberatan, beban, maupun pelecehan. Allah menjanjikan pembebasan total, kemenangan sesungguhnya atas kekuatan musuh. Suatu hari kaki saya tidak akan lagi dijerat dalam perangkap setan. Suatu hari nanti saya akan melihat ke dalam hati saya dan melihat Yesus saja - hanya kekudusan - hanya hal-hal menyenangkan hati Allah.

Suatu hari nanti Allah harus memimpin semua anak-Nya ke tempat yang bebas dari kuasa dosa. Firman Allah berpengaruh begitu luas. Saya hanya tahu sedikit tentang bagaimana menemukannya di dalam Alkitab tentang jawaban atas kebutuhan pribadi saya. Satu-satunya harapan adalah bahwa Roh Kudus secara supranatural akan membawa saya kepada kebenaran yang akan membebaskan saya. Saya tidak bisa menemukannya sendiri. Saya tidak bisa mendapatkannya dari buku-buku atau dari para penasehat rohani. Saya tidak bisa memahami semuanya itu tanpa Roh Kudus yang mengungkapkan hal itu kepada saya. Saya ingin tahu apakah yang diharapkan Allah terhadap saya; Saya ingin tahu seberapa banyak yang menjadi bagian saya dan seberapa banyak yang merupakan bagian-Nya!

Oh Tuhan, bersihkanlah keinginan saya ini. Buatlah kerinduan saya untuk menginginkan hal-hal yang Engkau ketahui yang terbaik bagi saya. Jika Engkau memberi saya segala yang saya inginkan, itu akan menjadi hiruk-pikuk kebingungan, tanpa aturan atau tanpa harmoni. Semua keinginan manusiawi saya menjadi buta! Keinginan-keinginan ini biasanya di luar kebutuhan riil saya dan seringkali bertentangan pula dengan hukum-hukum moral Allah.

Sungguh sangatlah mudah untuk menginginkan apa yang akan menyebabkan saya menjadi rusak yang luar biasa pada diri sendiri, yang menyebabkan kesengsaraan terburuk, dan mengakibatkan pada kebingungan yang paling tragis. Saya memikirkan tentang kerinduan saya sebagai pikiran yang baik, cerdas dan yang diperlukan untuk kesejahteraan diri saya sendiri.

Dosa menyebabkan keinginan saya untuk terlepas dari hukum moral Allah. Keinginan ini akhirnya menjadi selera batin yang menggiurkan. Kelaparan jiwa, aspirasi, keinginan dan hawa nafsu yang berbau dengan segala macam ketidak-normalan. Mereka merupakan hantu tanpa persepsi.

Berasal dari manakah banyaknya keinginan saya ini? Bukannya berasal dari mata air nalar dan akal sehat; tetapi keinginan ini terus menghasut, dengan hawa nafsu yang berasal dari keinginan alamiah. Keinginan-keinginan ini tersembur keluar dari pikiran saya seperti tentara yang liar - bingung, membuta dan dalam kekacauan total. Mereka berkerumun seperti lebah – begitu cepat dan liar.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya sering menemukan betapa sia-sianya dan bodohnya keinginan saya. Saya ingin melaksanakan proyek baru, dan itupun meledak sebelum saya sendiri dapat memulainya. Kemudian, saya belajar bahwa kekecewaan saya ternyata menjadi berkah yang tersembunyi. Jika Allah tidak ikut campur tangan dan keinginan itu sendiri terus mencengkram saya, maka saya dapat menghancurkan diri saya sendiri.

Keinginan saya seringkali dapat menjadi sangat buruk secara moral. Keinginan-keinginan ini dapat saja dipicu oleh hawa nafsu. Memang ada sejenis bibit keinginan yang bersembunyi di bawah permukaan, yang mendorong kita semua untuk terus-menerus terhanyut oleh keinginan alamiah Adam yang kita miliki – yang selalu membobol pikiran, berbaur dengan pikiran kita yang terdalam dan yang paling suci, mencoba untuk membuat pikiran kita untuk menerimanya sebagai pikiran Tuhan.

Sangat sering terjadi, bahwa keinginan pribadi saya begitu mendominasi, begitu dalam tertanam, dan mereka menyerang pikiran saya ketika saya sedang berdoa di kamar rahasia saya. Mereka menjadi begitu kuat dan gigih, dan saya mengizinkannya untuk menipu saya dengan menerimanya sebagai suara batin yang kecil dari Allah yang bekerja di dalam manusia batiniah ini. Semoga Allah menjaga saya dari tipu daya keinginan saya sendiri yang tidak bermoral itu.

1. Saya seharusnya mempertahankan kehidupan doa!

Mengapa tidak satupun dari kita yang berdoa sebagaimana semestinya? Kita tahu bahwa Allah ingin menghibur dan membantu kita. Kita tahu bahwa beban kita semuanya dapat diangkat ketika kita berada dekat dengan-Nya. Ada sesuatu di dalam diri kita yang terus memanggil kita untuk berdoa. Ini adalah Roh Kudus yang mengatakan, "Ayo." Datanglah ke air yang memenuhi jiwa yang haus. Datanglah kepada Bapa yang sayang pada anak-anak-Nya. Datanglah kepada Tuhan kehidupan yang menjanjikan untuk mengampuni setiap dosa yang kita lakukan. Datanglah kepada Dia yang menolak untuk mengutuk anda, atau meninggalkan anda, atau menyembunyikan diriNya dari anda.

Allah tidak bersembunyi dari kita ketika kita berbuat dosa. Tidak Pernah! Itu hanyalah ketakutan kita yang mengutuki hati kita. Tuhan tidak bersembunyi di taman Eden ketika Adam dan Hawa berbuat dosa. Dia masih datang kepada mereka, memanggil dan merindukan persekutuan dan cinta mereka. Kita sendirilah yang menyembunyikan diri - karena rasa bersalah dan penghukuman kita. Kita tidak bisa membayangkan mengapa Allah masih mencintai kita, ketika kita begitu tidak patuh dan tidak tahu berterima kasih.

Datanglah dengan keberanian menuju tahta kasih karunia-Nya - bahkan ketika anda telah berbuat dosa dan gagal. Dia mengampuni – secara langsung - mereka yang bertobat dengan dukacita menurut kehendak Allah. Anda tidak perlu menghabiskan berjam-jam dan hari-hari dengan penyesalan dan rasa bersalah. Anda tidak harus mendapatkan jalan kembali ke rahmat-Nya. Anda tidak perlu berpura-pura mengalami kesedihan atau berpura-pura menangis. Pergilah kepada Bapa - bertekuk-lututlah dan bukalah hatimu - dan menjerit dengan rasa kesakitan dan nyerimu. Beritahukanlah Dia tentang semua kegagalan anda - tentang semua perjuangan anda. Beritahukanlah kepada-Nya tentang rasa kesepian anda, tentang perasaan anda yang terisolasi, tentang ketakutan anda, tentang kegagalan anda.

Kita mencoba segalanya tetapi bukanlah doa yang dilakukan. Kita membaca buku-buku, mencari formula-formula dan pedoman. Kita pergi ke teman-teman, ke para pendeta/pastur, konselor - mencari ke mana-mana untuk kata-kata penghiburan atau nasihat. Kita mencari mediator/perantara namun melupakan seorang Mediator yang memiliki jawaban untuk segala sesuatu.

Kita tidak berdoa karena memang begitu sulit untuk melakukannya - sebagian besar dari waktu kita. Tidaklah sulit untuk dimengerti ketika masalah datang dengan tiba-tiba. Serangan penyakit kanker - atau seorang yang kita dicintai meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung. Kemudian kita begitu hancur dalam roh, kita menangis dan berdoa. Nampaknya, tidak apa-apa. Tapi kita harus bersandar pada Yesus dalam melewati keadaan yang baik maupun yang buruk. Kita harus mendapatkan kekuatan dan bantuan jauh-jauh hari sebelum krisis dapat menguasai kita. Kita harus mencurahkan isi hati kita kepada-Nya setiap hari dalam kehidupan kita.

Tidaklah heran apabila kita begitu kering dan kosong. Kita sederhananya telah mengabaikan kamar rahasia doa kita. Hal ini bukanlah kekeringan yang sesungguhnya - ini merupakan suam-suam kuku. Ini adalah rasa dingin yang berkembang yang disebabkan oleh semakin hanyutnya keberadaan kita, dan semakin menjauhnya kita dari tempat kudus.

Tidak ada satupun yang dapat melenyapkan kekeringan dan kekosongan dalam waktu yang lebih cepat dari satu atau dua jam bersama dengan Tuhan di dalam kamar doa yang tertutup. Menyingkirkan diri untuk bergumul dalam doa bersama dengan Allah di dalam kamar rahasia-Nya menyebabkan kita merasa bersalah. Kita tahu bahwa cinta kita kepada-Nya dapat membawa kita ke hadirat-Nya, tapi kita menyibukkan diri kita sendiri dengan banyak hal - waktu terus saja menyelinap pergi, dan Allah sendiri telah kita tinggalkan. Kita bersandar pada petunjuk-Nya yang terarah pada "pikiran para pendoa." Tapi tidak ada satupun yang bisa menggantikan kamar doa rahasia kita - dengan menutup pintu - berdoa kepada Bapa dalam pengasingan itu! Ituah solusi untuk menghadapi setiap musim kering.

2. Saya seharusnya tidak takut lagi dengan penderitaan kecil!

Kebangkitan Kristus didahului dengan penderitaan yang singkat. Kita sesungguhnya mati! Kita memang menderita! Ada rasa sakit dan penderitaan!

Kita tidak ingin menderita! Atau menolaknya untuk menderita! Atau tidak ingin terluka! Kita ingin dibebaskan dari penyakit yang menyakitkan! Kita menginginkan intervensi supranatural dari Allah. "Segeralah lakukan itu, ya Allah," kitapun berdoa, "karena saya lemah dan akan selalu lemah. Lakukanlah semuanya itu, sementara saya pergi berjalan, menunggu pembebasan supranatural dariMu!"

Atau, kita malah menyalahkan setan atas masalah kita sendiri! Kita mencari seorang abdi Allah dan berharap agar dia bisa mengusirnya si iblis itu - sehingga kita bisa berjalan seperti kita tidak menanggung rasa sakit ataupun penderitaan – semuanya sudah dibereskan oleh Allah! Angin segar yang bertiup ke dalam kehidupan yang damai penuh kemenangan! Kita ingin seseorang untuk meletakkan tangannya atas kita dan mengusir semua kekeringan rohani kita yang ada. Namun kemenangan tidak selalu tanpa penderitaan dan rasa sakit. Lihatlah pada dosa anda! Hadapilah! Tanggunglah penderitaannya seperti apa yang telah dilakukan oleh Yesus. Penuhilah penderitaan-Nya! Masuklah ke dalamnya! Penderitaan hanya datang untuk semalaman saja; sukacita selalu mengikutinya di pagi hari.

Allah menetapkan anda sebelumnya dan ini merupakan sebuah pilihan. KasihNya menuntut sebuah pilihan. Jika Allah secara supranatural mengangkat kita keluar dari setiap pertempuran tanpa rasa sakit atau penderitaan, hal itu akan menggugurkan adanya semua pencobaan, semua godaan - tidak akan ada lagi pilihan bebas, tidak ada lagi pengujian seperti uji kemurnian dengan api. Hal ini akan menjadikan Allah mengganti kehendak-Nya terhadap manusia. Namun Ia memilih untuk bertemu dengan kita di saat kekeringan dan menunjukkan kepada kita bagaimanakah hal itu dapat menjadi jalan menuju ke kehidupan iman yang baru.

  • Hal ini seringkali sesuai dengan kehendak Allah untuk menderita kekeringan - dan bahkan dengan rasa sakit.

    "Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia" (1 Petrus 4:19).

  • Tetapi syukur kepada Allah - penderitaan selalu datang sesaat saja yakni sebelum terjadinya kemenangan akhir!

    "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. " (1 Petrus 5:10).

Download PDF