Akankah Allah Mengabulkan Doaku? | World Challenge

Akankah Allah Mengabulkan Doaku?

David WilkersonNovember 1, 1979

Pernahkah anda mengajukan pertanyaan itu? Apakah ada sesuatu hal khusus yang telah anda doakan begitu lamanya, namun tidak ada jawaban yang terlihat jelas? Apakah anda pernah mengalami keragu-raguan padahal doanya ternyata malah dikabulkan? Apakah anda dengan jujur ​​melakukan segala sesuatunya yang memang seharusnya untuk dilakukan? Apakah anda memenuhi syarat yang dibutuhkan untuk setiap doa? Apakah anda menangis, berpuasa, dan sungguh-sungguh memohon Allah dalam iman yang benar? Namun tampaknya tak akan ada sesuatu pun yang terjadi? Jika anda harus menjawab dengan ya atas semua pertanyaan di atas, maka anda berada dalam persekutuan yang baik. Anda bukanlah umat Kritiani yang aneh yang menanggung hukuman dari Allah. Jawaban doa yang tertundah merupakan suatu pengalaman yang paling umum yang dimiliki oleh anak-anak Allah yang paling suci sekalipun.

Saya berterima kasih kepada Allah atas para pendeta, imam dan guru-guru yang memberitakan iman. Saya juga! Terima kasih Tuhan untuk guru-guru yang mengaduk-aduk jiwaku untuk mengharapkan keajaiban dan jawaban atas semua doa-doa saya. Mungkin gereja telah menjadi begitu tidak setia dan tidak percaya, bahwa Allah sampai harus meledak pada kita dengan wahyu yang baru dan segar dari janji-janji-Nya yang penuh kuasa. Ada banyak ajaran baru saat ini mengenai bagaimana "Membuat pengakuan yang tepat." Juga, umat Allah sedang didesak untuk berpikir positif dan teguh terhadap semua janji Allah. Kita diberitahukan untuk membersihkan hidup kita dari segala dendam yang tersembunyi — membuat semua kesalahan kita menjadi benar, bahkan kita diajarkan untuk kembali ke masa kecil kita. Ajaran yang hangat akhir-akhir ini adalah bahwa sebagian besar doa-doa kita yang tidak dikabulkan, penyakit yang terus berlangsung lama, ketidakmampuan kita untuk menggerakkan hati Allah untuk kepentingan kita sendiri adalah akibat langsung dari kesalahan dalam menangani iman kita. Seperti seorang guru iman mengatakan bahwa, "Iman adalah seperti keran, anda dapat mematikannya atau menghidupkannya."

Semua kedengarannya begitu sederhana. Apakah anda membutuhkan keajaiban keuangan dalam hidup anda? Kemudian hanya dengan menyingkirkan hidup anda, kita diajarkan untuk menyingkirkan, semua rintangan, dendam, dan ketidakpercayaan — kitapun harus mengakui bahwa kita telah menerima jawabannya dengan iman, dan hal itu akan menjadi milik anda. Apakah anda menginginkan suami yang bercerai agar ia kembali dan rujuk berdamai? Akuilah — bayangkanlah bahwa hal itu sedang terjadi — gambarkanlah suatu reuni mental yang indah — dan itu semua akan menjadi milikmu. Apakah ada seseorang yang anda cintai  sedang berada di ambang kematian? Kemudian tempatkanlah Allah agar Dia memperhatikan anda untuk tidak memberikan jawaban tidak; ingatkanlah Dia akan janji-Nya; akuilah adanya penyembuhan — dan itu akan terjadi, demikianlah apa yang diajarkan kepada kita. Dan jika doa anda tidak dikabulkan; jika suami tetap pergi meninggalkan anda berbulan-bulan lamanya; jika orang sakit yang anda cintai akhirnya meninggal dunia; jika kebutuhan keuangan anda berubah menjadi krisis — mereka mengatakan bahwa itu semua akibat kesalahan anda. Pada satu titik di dalam perjalanan hidup anda, anda memperbolehkan pikiran negatif untuk memblokir saluran yang ada. Atau, mungkin anda memiliki dosa rahasia atau dendam kesumat yang tidak dapat dilepaskan. Pengakuan anda itu sesungguhnya tidak alkitabiah atau tidak tulus. Seorang guru iman menulis, "Jika anda tidak mendapatkan hasil yang telah saya terima, maka anda sesungguhnya tidak melakukan semua yang telah saya lakukan!"

Saya tidak sedang bercanda. Saya percaya bahwa Allah mengabulkan doa. Oh, bagaimana saya mempercayainya! Tapi kantor pelayanan saya telah menerima surat-surat tragis dari umat Kristiani yang jujur ​​yang benar-benar bingung dan sedih karena kelihatannya mereka tidak bisa membuat formula baru untuk doa-dan-iman yang bekerja. "Apakah yang salah dengan saya?" demikian tulisan salah seorang wanita yang bermasalah. "Saya telah memeriksa hati saya dan telah mengakui setiap dosa saya. Saya telah mengikat kekuatan setan dengan Firman Allah. Saya berpuasa; Saya sudah meminta janji-janjiNya — namun, saya belum melihat jawabannya. Saya seharusnya buta rohani atau saya telah melakukan kesalahan atas semuanya itu."

Percayalah, ada ribuan umat Kristiani yang bingung di seluruh negeri ini yang mengutuk diri mereka sendiri karena mereka tidak mampu menghasilkan suatu jawaban atas sebuah doa yang putus asa. Mereka tahu Firman Allah adalah benar, dan tak ada satu janji pun yang dapat gagal, bahwa Allah itu setia kepada semua generasi, bahwa Dia adalah baik, dan bahwa Dia menginginkan anak-anak-Nya untuk mengharapkan jawaban atas doa-doa mereka. Namun, bagi mereka, ada satu doa yang tidak terkabulkan — tanpa alasan yang jelas. Jadi mereka menyalahkan diri mereka sendiri. Mereka mendengarkan kaset-kaset dari guru-guru dan para pengkhotbah yang berbicara begitu kuat dan positif tentang semua jawaban yang mereka dapatkan sebagai hasil dari iman mereka. Dan mereka mendengar kesaksian dari orang lain yang memiliki formula rumusan yang semuanya bekerja dengan sukses dan yang sekarang ini menerima semua jawaban atas permohonan yang mereka minta dari Allah. Kemudian mereka melihat pada ketidakberdayaan mereka sendiri, dan kecaman telah menguasai mereka.

Biarkanlah saya mengungkapkan apa yang saya rasakan mengenai doa yang tidak dikabulkan. Pertama-tama, saya menghormati dan mencintai semua guru dan pendeta/imam yang mengajarkan iman dan pengakuan positif. Mereka adalah orang-orang besar Allah baik pria maupun wanita. Kita sangat perlu diingatkan tentang kekuatan iman dan pemikiran yang tepat. Ini semua sangat berdasarkan kitab suci, dan mereka yang menolak atau menyangkal ajaran tersebut mungkin pernah meluangkan waktu untuk mendengar apa yang sesungguhnya telah diajarkan. Tapi ada satu masalah besar. Kereta iman itu sedang bergulir dengan kecepatan penuh sehingga menjadi tidak seimbang jalannya. Dan jika itu terus bergulir ke arah yang sekarang, tanpa keseimbangan, maka akhirnya akan teralihkan, dan banyak orang percaya yang akan terluka. Beberapa orang telah menyerah karena mereka telah datang di bawah perbudakan ajaran iman yang menyarankan bahwa semua doa yang tidak terkabulkan adalah akibat dari hasil kesalahan manusia. Dengan kata lain, jika formula itu tidak bekerja untuk anda — maka itu berarti anda telah melakukan sesuatu yang salah — olehkarena itu teruslah melakukannya sampai anda melakukannya dengan benar.

Anda tidak dapat memberi makan iman anda hanya dengan berdasarkan janji-janji diri sendiri lagi untuk penyembuhan, kekayaan, kesuksesan, dan kesejahteraan namun lebih dari itu bahwa anda dapat bertumbuh sehat dan kuat hanya dengan makanan penutup. Iman datang dari pendengaran akan "semua Firman" — bukan hanya bagian Firman yang anda disukai saja.

Bagaimana dengan kebenaran Alkitab yang berbicara tentang penderitaan yang mengajarkan kita kepada ketaatan? Seperti Yesus lakukan, kita belajar untuk taat dengan apa yang telah diderita oleh kita (Ibrani 5:8). Ada begitu banyak ayat-ayat kitab suci tentang penderitaan dan iman.

Iman kita tidak seharusnya takut untuk menyelidiki ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan penundaan Allah, masa-masaNya untuk berdiam, dan bahkan kedaulatan-Nya — ketika Dia bertindak tanpa memberikan penjelasan kepada manusia.

Paulus memperingatkan bahwa iman tidak harus berdiri sendiri. Dia mengatakan, "Menambahkan iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, kesederhanaan, kesabaran, dan lain-lain" Iman tanpa kesabaran dan kebajikan dan penguasaan diri akan menjadi egois dan tidak seimbang.

Semua penyakit tidak disebabkan oleh setan atau roh-roh jahat. Kebanyakan disebabkan oleh kurangnya penguasaan diri, kerakusan, dan kebiasaan buruk. Persendawaan ini, membuat generasi ini menjadi kembung seperti pegunungan yang penuh dengan makanan sampah, makanan penutup, dan minuman beracun — kemudian, ketika tubuh melemah dan terserang penyakit, kita dengan panik  mencari Firman Allah untuk segera mendapatkan obat mujarab. Kita akan melakukan apapun untuk disembuhkan — kecuali latihan penguasaan diri dan pantangan. Dan meskipun demikian, Allah, dalam rahmat-Nya, akan sering menolak cara-cara memanjakan diri kita dan menyembuhkan tubuh kita, kita perlu menginvestasikan iman kita dalam hal penguasaan diri.

Di dalam Alkitab ada saat-saatnya ketika Allah tidak bisa, atau tidak mau menjawab — tidak peduli seberapa banyaknya kita memohon — tidak peduli seberapa besarnya iman atau betapa positifnya pengakuan kita. Paulus sendiri tidak dibebaskan dari penderitaan yang merisaukannya, meskipun ia berdoa dengan tekun untuk mendapatkan jawaban doanya. "Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku ..." (2 Korintus 12:7-10).

Allah ingin memperlihatkan karya kasih karuniaNya menjadi sempurna di dalam Paulus. Dia tidak akan mengizinkan anak-Nya untuk menjadi sombong dengan membanggakan diri. Dia tidak akan bersukacita dalam pembebasan — tetapi dalam belajar bagaimana kuasa Allah dapat menjadi miliknya pada saat Paulus dalam kelemahan. Tapi lihatlah apa yang terjadi dengan Paulus, membuktikan bahwa Allah benar apabila Ia tidak mengabulkan permintaannya: "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus: Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (2 Korintus 12:9,10).

Apakah Paulus kurang beriman? Penuh dengan pikiran negatif? Membuat pengakuan yang salah? Mengapa Paulus tidak memberitakan pesan yang kita dengar begitu banyaknya pada hari ini. "Anda tidak seharusnya menderita kelemahan, kemiskinan, kesukaran, dan penderitaan. Anda tidak perlu bertahan dalam memenuhi kebutuhan atau kelemahan. Tuntutlah kemenangan anda atas semua penderitaan dan rasa sakit..." demikianlah pesan ajaran mereka.

Paulus menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar penyembuhan, lebih dari sekedar keberhasilan, lebih dari sekedar pembebasan, lebih dari duri-duri — ia menginginkan Kristus! Paulus lebih suka menderita daripada mencoba untuk menolak Allah. Itulah sebabnya ia bisa berteriak, "Aku bermegah di dalam situasi sekarang - Allah sedang bekerja di dalamku dengan melewati semua penderitaan ini. Dalam dan melalui semuanya itu, aku tahu penderitaanku yang sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang menanti aku."

Kita menyalahgunakan terkabulnya doa kita. Kita menjadi tidak tahu berterima kasih, dan menjadi begitu sering berubah dari pembebasan kita menjadi bencana. Itulah yang terjadi pada Hizkia. Allah mengutus seorang nabi untuk memperingatkan dia agar mempersiapkan diri untuk kematian, dengan berkata, "Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi." Hizkia menangis, bertobat, dan memohon Allah untuk mendapatkan kesembuhan. Allah mengabulkan doanya dengan mengaruniakan tambahan usia lima belas tahun. Ia diberi kesempatan untuk hidup. Pada tahun pertama sejak kesembuhannya, ia berkompromi dengan pihak musuh, dengan memperlihatkan seluruh harta benda Israel kepada raja-raja musuh. Dia sesungguhnya membawa bencana bagi keluarga dan bangsanya sendiri.

Pada saat-saat lainnya Allah menolak untuk mengabulkan permintaan doa kita, karena Dia memiliki "cara yang lebih baik." Dia akan menjawab, baiklah, tapi kita tidak akan mengenalinya seperti itu. Kita bahkan akan melihatnya sebagai penolakan — tetapi, melalui semuanya itu, Allah akan melakukan kehendak-Nya dengan sempurna. Anda menemukan prinsip ini bekerja dengan baik ketika Israel sedang dibawa pergi menjadi tawanan ke negeri orang Kasdim. "Sungguh suatu bencana," teriak mereka. "Allah telah menolak doa kita; kita telah ditinggalkan. Allah telah menutup telingaNya terhadap kita." Mereka yang masih tersisa di Yerusalem menjadi sombong dengan berpikir bahwa Allah telah mendengar doa mereka dan Allah memberkati mereka dengan mengizinkan mereka untuk tinggal di kota Yerusalem. Tetapi bagi mereka yang tinggal di kota itu akan dilenyapkan oleh pedang, kelaparan dan penyakit sampar — sampai mereka habis dilenyapkan… (Yeremia 24:10).

Tapi orang-orang yang ditawan telah diberitahukan, "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: sama seperti buah ara yang baik ini, demikianlah Aku akan memperhatikan untuk kebaikannya orang-orang Yehuda yang kubawa dari tempat ini ke dalam pembuangan, ke negeri orang-orang Kasdim" (Yeremia 24:5). Mereka tidak pernah mengakui pekerjaan Allah dalam melestarikan sisa suatu bangsa, tetapi bagi mereka yang telah "diselamatkan melalui penderitaan" akan dibawa kembali untuk membangun kembali tanah Israel.

Alkitab mengatakan, "Pengakuan yang jujur itu baik bagi jiwa." Saya mengaku kepada anda bahwa saya belum menerima jawaban apapun atas dua doa saya yang telah didoakan selama bertahun-tahun. Sudah saya dengar bahwa seseorang berkata, "Saudara David, jangan lakukan itu! Itu bersifat negatif! Itu adalah pengakuan yang salah. Tidak heran anda belum menerima jawaban untuk kedua doa itu!" Saya merasa lebih bergembira daripada terluka dengan komentar tersebut. Saya menolak untuk mengabaikan fakta-fakta. Faktanya adalah bahwa saya telah sungguh-sungguh berdoa tentang kedua hal itu — saya telah berpegang teguh pada setiap janji Allah dalam Alkitab - Saya memiliki keyakinan bahwa Allah mampu melakukan apa-pun — saya telah memberikan iman untuk memindahkan gunung itu kepada Tuhanku yang penuh berkat! Namun, tahun demi tahun pun bergulir, dan saya belum melihat jawaban atas doa saya. Ribuan doa saya yang lainnya telah dikabulkan. Saya melihat jawaban doa-doa saya setiap hari dalam hidup saya. Allah melakukan mujizat demi kepentingan saya, di setiap kesempatan dalam hidup saya. Tapi tetap tak berubah, dua doa saya belum terjawab.

Saya persilahkan para ahli tentang doa dan iman untuk coba menganalisa alasan-alasan apa yang menyebabkan doa-doa ini tidak dikabulkan — tetapi bagi saya, saya tidak sedikit pun khawatir tentang hal itu. Saya telah melewati semua proses penghukuman diri. Saya sudah cukup menyalahkan diri saya sendiri karena tidak menerima jawaban dari Tuhan ketika saya menginginkannya. Allah sedang memberikan keseimbangan dalam iman saya! Pengakuan saya yang positif sedang disalurkan kembali ke arah yang benar. Dan, oh betapa sukacita dan bebasnya ketika imanmu kepada Allah tidak lagi hanya tergantung pada terkabulnya doa-doa. Betapa sentosanya anda ketika iman anda hanya berfokus pada Yesus dan menerima karakter-Nya yang kudus.

Saya percaya pada waktunya Roh Kudus. Dalam waktu Allah sendiri, semua doa-doa kita akan dikabulkan — dalam satu atau beberapa cara yang lain. Masalahnya adalah, kita takut untuk menyerahkan doa-doa kita untuk diselidiki oleh Roh Kudus. Beberapa doa-doa kita perlu dibersihkan. Beberapa iman kita sedang disalah-gunakan untuk permintaan yang tidak dewasa. Kita sangat yakin bahwa jika permintaan kita "sesuai dengan kehendak-Nya, kita seharusnya mendapatkannya." Kita sebenarnya tidak tahu bagaimanakah seharusnya kita berdoa, "Jadilah kehendak-Mu!" Kita tidak ingin kehendak-Nya menjadi sebanyak yang diizinkan oleh kehendak-Nya. Satu-satunya ujian yang kita butuhkan dari doa-doa kita adalah apakah itu bersifat egois: “Dapatkah saya menemukannya di dalam katalog Allah mengenai hal-hal yang diijinkanNya?" Olehkarenanya kita mencari semua pembenarannya melalui Firman Allah dan dengan cerdik mengajukan semua alasan mengapa kita harus diberikan berkah dan jawaban tertentu. Kita mencocokkan janji-janjiNya untuk menyesuaikan dengan permintaan khusus kita. Ketika kita yakin bahwa kita memiliki kasus yang baik dan telah mengumpulkan janji yang cukup, kita antri berbaris dengan berani menuju ke hadirat Allah seolah-olah mengatakan, "Tuhan, saya punya kasus yang sulit dan berat seperti besi yang keras dan padat — sekalipun tidak mungkin Engkau mempermalukan saya.  Saya sudah memeriksa iman saya. Saya telah memiliki FirmanMu untuk mengatasi masalah ini. Saya telah melakukan semua yang sesuai dengan rencana. Ini adalah milikku! Saya menuntutnya! Sekarang ini!"

Itukah iman yang sesungguhnya? Alat yang dipakai untuk membongkar janji-jani dan kenikmatan dari Allah? Suatu tantangan untuk menguji kesetiaan-Nya? Sebuah ujian untuk firman-Nya? Sebuah kunci untuk membuka kamar berkat Allah? Sepertinya bagi saya kita sedang antri berbaris menuju ke ruang tahta Allah dengan spanduk iman kita yang berkibar, dipersenjatai dengan segudang janji-janji, siap menuntut dengan kasar semua yang ada itu untuk kepentingan kita. Sementara itu, kita membayangkan persetujuan Bapa kita dengan memberikan keselamatan kepada kita atas pengungkapan misteri iman kita dan olehkarena itu kita menganggap bahwa kita pantas untuk menerima karunia dari surga.

Hingga Allah merestrukturisasi keinginan dan ambisi kita, maka kita akan terus menyia-nyiakan iman kita yang berharga itu pada hal-hal yang diciptakan sendiri, bukan dari Sang Pencipta. Betapa penakut dan bobroknya iman kita jadinya apabila itu digunakan hanya untuk memperoleh sesuatu. Betapa tragisnya bahwa kita harus bermegah atas iman kita yang dipakai hanya untuk mendapatkan mobil baru, pesawat terbang, tambang emas, keuangan, rumah baru, dan lain-lainnya.

Iman adalah bentuk pemikiran — meskipun positif, pikiran ilahi. Tetapi Yesus memperingatkan kita untuk tidak memberikan pikiran untuk memikirkan hal-hal materi. "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.“ Betapa sangat jelasnya Yesus mengatakan, "Karena itu ...Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu" (Matius 6:25, 32).

Bahkan orang-orang sukses yang jahat yang hidup pada masa-masa ini —  tidak akan mengatakan bahwa imanlah yang mengakibatkan terkabulnya doa. Allah menurunkan hujan kasih-Nya dan berkatNya bagi orang-orang yang benar serta adil. Tunjukkanlah kepada saya hai umat Kristiani yang percaya dengan injil kemakmuran, dan saya akan menunjukkan kepadamu kemakmuran yang bahkan melebihi yang anda ketahui.

Saya membenci ide pengajaran umat Kristiani yang mengajarkan bagaimana menggunakan iman untuk menjadi makmur atau menjadi lebih sukses. Yang bertentangan dengan ajaran Nazaret yang sederhana yang meminta pengikut-Nya untuk menjual dan memberikan hartanya kepada orang miskin. Dia menentang terhadap orang-orang yang membangun lumbung dan menentang pula orang-orang yang kelaparan dengan harta duniawi. Dia tidak mempunyai waktu untuk mereka yang menumpuk harta di bumi ini. Dia mengajarkan bahwa anak-anak-Nya tidak harus menjadi terjerat dengan tipu daya kekayaan, tetapi iman yang seharusnya menyebabkan kita untuk menarik perhatian kita terhadap hal-hal yang di atas.

Bagaimanakah hal itu bisa terjadi bahwa semua ajaran yang kita miliki saat ini tentang iman, hingga Yesus harus mengatakan bahwa, "... jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8). Mungkinkah Yesus tidak mempertimbangkan iman moderen yang akan menjadi iman sesungguhnya? Apakah yang kita sebut iman itu menjadi begitu mementingkan diri sendiri, dan menjadi kekejian bagi Tuhan? Tidak peduli seberapa banyak kitab suci yang dikutip untuk mendukung itu, iman yang melayani diri sendiri adalah penyimpangan dari kebenaran sesungguhnya.

Bandingkanlah betapa banyaknya iman materialistis ini menjadi begitu umum pada hari ini seperti yang dijelaskan dalam Ibrani 11! Hal-hal yang diharapkan oleh orang-orang besar baik pria maupun wanita tidak dapat diukur dengan standar duniawi apapun. Substansi yang mereka cari bukanlah uang, rumah, sukses, atau kehidupan tanpa rasa sakit. Mereka menjalankan iman mereka untuk mendapatkan persetujuan Allah untuk kehidupan mereka. Iman Habel terfokus hanya pada kebenaran, dan Gad berbakat dengannya. Iman Henokh begitu berpusat pada Allah, begitulah ia menterjemahkan imannya. Imannya hanya memiliki satu motif tunggal — untuk mengetahui dan menyenangkan Allah. Iman bagi Nuh berarti "bergerak maju dengan rasa takut" untuk mempersiapkan hari penghakiman yang akan datang. Betapa hebatnya manusia akan menangis ketika ia menyaksikan kegilaan materialisme yang melanda generasi kita.

Abraham menjalankan iman untuk selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia adalah orang asing di bumi ini. Perjanjian berkat-Nya di bumi ini hanya menghasilkan sebuah tenda untuk tempat tinggalnya, karena ia menaruh semua imannya pada kota yang dirancang dan dibangun oleh Allah.

Beberapa orang yang memiliki reputasi dalam memiliki iman yang besar ternyata 'tidak menerima apa yang dijanjikan" (Ibrani 11:39). Sedangkan orang-orang yang "memperoleh apa yang dijanjikan" justru menggunakan imannya untuk bekerja demi kebenaran, untuk mendapatkan kekuatan pada masa-masa kelemahan, dan untuk mengejar musuh.

Adakah beberapa dari mereka yang tidak hidup dalam iman? Apakah Tuhan menolak untuk mengabulkan beberapa doa-doa mereka? Pada kenyataannya, tidak semua prajurit doa dan iman tersebut dikabulkan permohonannya. Tidak semua yang ada dari mereka itu hidup untuk melihat terkabulnya doa-doa mereka. Tidak semuanya selamat dari rasa sakit, penderitaan, dan bahkan kematian. Beberapa disiksa; lainnya digergaji, mengembara kian kemari, miskin, penuh penderitaan, dan tersiksa (Ibrani 11:36-39).

Inilah orang-orang besar pria dan wanita yang beriman namun diejek, didera, dibelenggu, dan dipenjara. Mereka menderita dan tersiksa bukan sebagai akibat kurangnya iman atau mengaku salah — atau oleh karena mereka memendam dendam atau niat jahat. Apakah orang-orang beriman ini tidak dapat menghasilkan yang lebih dari sekedar persediaan makanan mereka? Tidak dapatkah mereka bangkit dalam iman untuk menuntut salah satu janji agung yang ada yakni agar terhindar dari wabah yang dapat mendekati tempat tinggal mereka?

Oh, sahabatku, dunia ini tidak layak untuk orang-orang kudus yang beriman ini, karena mereka memiliki jenis iman yang dapat menghancurkan setiap tuntutan daging. Iman mereka memiliki satu mata; mereka menganggap semua berkat Allah sebagai kekal abadi dan spiritual, bukan fanah duniawi dan untuk saat ini saja.

Ya, saya tahu pembahasan tentang iman ini tentunya ditutup dengan, "Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita" (Ibrani 11:40). Tapi bagaimanakah kita akan mendefinisikan bahwa hal yang lebih baik telah disediakan oleh Allah bagi mereka yang memiliki iman pada saat ini? Manfaat kesehatan yang lebih baik? Persediaan makanan yang lebih baik? Pengaturan keuangan yang lebih baik? Waktu yang lebih baik untuk mendapatkan kemudahan dan kemakmuran? Jaminan hari tua yang lebih baik? Lumbung yang besar, yang diisi dengan semua yang kita butuhkan untuk hidup pada masa pensiun?

Tidak! Saya katakan bahwa Allah telah memberikan kita sesuatu yang lebih baik di-dalam Putra-Nya yang tunggal. Dia datang ke dunia sebagai manusia untuk menunjukkan kepada kita bahkan yang lebih besar, iman satu-satunya yang teguh — yaitu "melakukan kehendak Bapa." Kita seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengenal Yesus daripada mencoba untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya. Kita tidak seharusnya berdoa agar Allah berbuat sesuatu agar terjadi untuk kita — melainkan berbuat sesuatu melalui kita.

Mereka yang begitu giat menjalankan iman mereka untuk penyembuhan, berkat keuangan, jalan keluar untuk masalah — seharusnya menjadi sebaliknya yakni memfokuskan semua iman mereka pada hal memperoleh "istirahat yang sentosa di dalam Kristus." Ada iman yang terletak bukan dalam doa yang dikabulkan tetapi dalam pengetahuan bahwa Tuhan kita akan melakukan apa yang tepat untuk kita.

Janganlah khawatir tentang apakah Allah akan berkata "Ya!" atau “Tidak!" atas permohonan anda. Janganlah menjadi terjatuh iman kita apabila jawabannya adalah tidak dapat lihat. Berhentilah memikirkan mengenai formula-formula dan metode-metode iman. Berpegang tegulah dengan setiap doa kepada Yesus dan pergilah beraktivitas dengan penuh keyakinan. Dia tidak akan pernah terlalu cepat ataupun terlambat sedikitpun dalam menjawab doa anda. Dan jika jawaban yang kita cari tidak kunjung datang, marilah kita berkata dalam hati bahwa, "Dialah satu-satunya yang saya butuhkan. Jika saya membutuhkan lebih banyak, Dia tidak akan pernah menahannya. Dia akan melakukannya di dalam waktu-Nya, dengan cara-Nya, dan jika Dia tidak memenuhi permintaan saya, Dia seharusnya memiliki alasan yang sempurna mengapa Dia tidak melakukannya. Tidak peduli apa pun yang terjadi, saya akan selalu memiliki iman di dalam kasih setia-Nya."

Allah pasti membantu kita jika iman kita ditujukan melayani ciptaanNya bukan melayani Sang Pencipta. Allah mengampuni kita jika kita lebih peduli untuk mendapatkan jawaban doa-doa daripada belajar untuk melakukan penyerahan seutuhnya kepada Kristus sendiri. Kita tidak belajar ketaatan melalui hal-hal yang kita dapatkan melainkan melalui hal-hal yang kita alami dalam penderitaan. Apakah anda bersedia untuk belajar taat dengan mengalami penderitaan yang sedikit lebih lama tampaknya seperti doa yang tidak terjawab? Akankan anda beristirahat dalam kasih-Nya sambil dengan sabar menunggu janjiNya, dan setelah itu anda telah melakukan semua hal yang menjadi kehendak Bapa?

Buanglah teologi anda dan kembalilah kepada kesederhanaan. Iman itu adalah karunia, bukan sebuah ijazah. Iman tidak harus menjadi beban atau teka-teki. Semakin diri anda seperti kekanak-kanakan, semakin baik kerja iman anda. Anda tidak perlu pergi seminar atau membaca buku kuliah — Anda tidak perlu panduan. Roh Kudus akan menuntun anda untuk lebih dekat dengan Yesus — yang adalah Firman Allah — yang daripadanya iman itu muncul.

Download PDF